Parmin RAS: Seniman tari, Surabaya

Parmin itu penari yang tidak bisa menari. Itulah anggapan orang mengomentari apa yang dilakukannya. Sebab, sebagai penari, ia tidak menari secara lazim, yang selalu menghitung satu sampai delapan. Sebagai koreografer, ia tidak mencipta tari yang indah-indah. Tarian Parmin adalah karya yang selalu menunjukkan empati pada situasi sosial, kepedulian lingkungan atau menyuarakan jeritan hati kemanusiaan. Sudah sering orang melecehkan karyanya, dan Parmin tak peduli, meski konsekuensinya dia tak bisa mengandalkan aktivitasnya untuk sandang pangan keluarga. Solusinya, “saya jual gado-gado,” ujarnya mantap. Memang, keluarganya adalah dinasti penjual gado-gado yang terkenal di Jalan Arjuno Surabaya.

Puluhan tahun menggeluti seni tari, puluhan karya tari telah dihasilkannya. Ia adalah sosok koreografer yang terus berjuang tanpa henti meskipun lingkungan seniman sekitarnya tak memperhitungkannya. Namun pandangan orang agak berubah ketika tiba-tiba Parmin mendapat undangan Sharing Time di Devon, Inggris. Ia bukan hanya pentas, namun memberikan workshop, serta bekerja sampingan dalam upaya bertahan dan mengembangkan jaringan. Sejak itu, berulang kali undangan dari Eropa setiap tahun selalu datang padanya, bahkan bukan hanya Inggris, namun melebar ke Prancis dan negara-negara sekitarnya. Ia berkolaborasi dengan kelompok-kelompok seni di sana, berkarya bersama, bahkan belakangan tetap saja berkarya bersama dalam waktu yang sama, namun tempat yang berbeda. Mereka di Eropa, Parmin berkarya di Parang Tritis.

Sejak tahun 1970 sudah terlibat dalam grup Chandra Wilwatikta, setiap bulan pentas di Taman Candra Wilwatikta. Tahun 1973 bersama AM. Munardi membuat grup tari “Lintasan 73”. Ia juga sering menjadi penata gerak pementasan teater Bengkel Muda Surabaya (BMS) dengan arahan sutradara Basuki Rachmat, Akhudiat dan hari Matrais. Tahun 1977 (hingga 1983) mendirikan Sanggar Tari Suita Parani, yang memiliki cabang di Kediri, Tulungagung, Kertosono dan Surabaya sendiri. Sempat mengenyam pendidikan tari di STKW Surabaya hanya dua tahun, Parmin pernah pula nyantrik di Padepokan Lemah Putih bersama Suprapto Suryodarmo di Surakarta. Belakangan dia mendirikan padepokan sendiri di Pasirian, Lumajang. (hn)

2 Responses

  1. Salut untuk Pak Parmin Ras. Saya pernah belajar teater kepada beliau 13 th yg lalu tatkala saya masih belajar di SMKI Negeri Surabaya. Mohon mensosialisasikan ilmu anda dalam sebuah karya cetak melalui media buku atau apapun sebagai bekal pengetahuan teater di Jawa Timur. Saya slalu tunggu. OK

  2. Lucky,
    Terimakasih buat atensimu ya..apa kegiatanmu sekarang ? saya masih terbata menulis apa saja yg bisa saya tulis untuk sekedar meniggalkan jejak pada apa yang pernah kulakukan, Insyaallah nanti kalau sudah rampung tak publikasikan,]

    salam
    parmin ras

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: