M. Thalib Prasojo, Gaya Hidupnya juga Prasojo

paspoto-ok.jpgSoal paranormal dan Kejawen adalah dunianya. Maka sebagai pelukis, M. Thalib Prasodjo kental dengan nuansa budaya Jawa dalam karyanya. Ia ingin mengawinkan falsafah Jawa dengan obyek yang dilukisnya. Dia melukis wayang, yang memang dipelajarinya sejak masa anak-anak. Namun lelaki yang dianggap sesepuh seniman Sidoarjo itu juga dikenal sebagai pelukis sketsa yang rajin. Kemana-mana dia selalu membawa kertas gambar, mengabadikan berbagai hal, termasuk pencopet di atas bus kota yang pernah menggondol dompetnya.

Lahir di Tuban, 17 Juni 1930, dia bangga berada dalam garis keturunan Ki Ageng Wiro Lawe, Rengel. Sesuai dengan nama yang disandangnya, semboyannya adalah hidup sederhana, prasaja. Bertolak dari namanya itulah ia waktu kecil memiliki obsesi hendak meniti karier menjadi dalang atau pelukis. Dan dia memilih menjadi pelukis, karena atas dasar wangsit yang pernah ia terima waktu duduk di SMP, bahwa profesi pelukis akan membuahkan hasil untuk kemuliaan anak-anaknya. Meski demikian, ia beranggapan, keberhasilan menjadi seorang kepala keluarga jauh lebih penting ketimbang berhasil menjadi pelukis.

Maka begitu empat anaknya sudah mandiri, justru Thalib yang kembali total berkesenian. Ia malah rajin ikut pameran, tetap melukis sketsa dimana-mana, aktif berorganisasi atau terlibat dalam kegiatan kesenian. Jabatan Biro Seni Rupa DKS pernah disandangnya, juga di posisi Biro Litbang. Sebagai jebolan Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera), Thalib tergolong satu diantara sedikit mantan mahasiswa Aksera yang masih bertahan dengan dunia seni rupanya.

Kariernya diawali dengan pengabdian sebagai guru Sekolah Dasar, karena pernah sekolah di SGB/SGA di Bojonegoro. Menulis hal-hal yang berkaitan dengan spiritual, serta terjun sebagai perupa dengan bekal pengetahuan dari Aksera. Dulu dikenal sebagai pematung, dengan beberapa karya monumen yang telah dibuatnya, termasuk pesanan Korem 084 Surabaya dan Akabri Laut. Belakangan, dia juga terlibat dalam pembuatan Monumen Surabaya di kawasan Tugu Pahlawan.

Semula tinggal di kawasan Jalan Gresik Surabaya, kemudian ketika istrinya meninggal, Thalib pindah ke Sidoarjo. Di kota inilah lelaki yang juga punya kemampuan membuat patung ini sering menjadi sasaran curhat seniman-seniman muda. Ia seperti tak tega membiarkan anak-anak muda kehilangan pegangan. Dalam usianya yang sudah senja itu, toh dia masih setia menjadi pengajar melukis Sekolah Minggu Aksera di Dukuh Kupang, serta menjadi guru seni rupa di SMKN XI (dulu SMSR) di kawasan Siwalan Kerto Surabaya.

“Saya menghadapi hidup ini bagai air mengalir. Tak ada sesuatu yang saya pandang istimewa, toh hidup kita ini diatur oleh Yang Maha Kuasa,” ujar pengagum Sunan Kalijaga ini merendah. (hn)

 

Lebih lengkap: http://www.wayangsuket.wordpress.com

2 Responses

  1. saya sangat kagum dg bapak Thalib, sejak saya sekolah di

    smsr smpai sekarang dan kapanpun.

  2. jgn berhenti berkarya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: