Henri Supriyanto: Peneliti seni tradisi, Malang

Pada mulanya dia dikenal sebagai wartawan Sinar Harapan, Jakarta. Namun perhatian dan kepeduliannya terhadap seni tradisi menjadikannya seorang peneliti, penulis yang produktif serta penggerak kesenian di Malang dan Jawa Timur pada umumnya. Henricus atau Henri Supriyanto, kini menjadi satu-satunya peneliti budaya yang getol melakukan penelitian, mengumpulkan serta menerbitkan sejumlah buku mengenai ludruk. Bicara soal ludruk, tak bisa lepas untuk tidak menyebut namanya. Listik Murup, Ludruk Mati, adalah kalimat terkenal yang pernah dilontarkannya.

Kutu buku yang menjadikan rumahnya sebagai perpustakaan ini rajin mengikuti pertunjukan ludruk dari tobong ke tobong. Akrab bergaul dengan para pelaku ludruk, sekaligus memberikan masukan serta kawan diskusi yang menyenangkan. Tak segan-segan dia membagi-bagikan bukunya gratis pada para pelaku ludruk dengan maksud supaya mereka memiliki tambahan wawasan.

Dia lakukan dengan telaten, berbagai macam kidungan yang biasa dibawakan oleh pemain ludruk di atas panggung. Dia pilah-pilah temanya, dibuat semacam periodesasi, hingga kemudian diterbitkan sebagai pegangan bagi pemain ludruk. “Maksudnya, supaya arek-arek Ludruk itu kalau ngidung gak iku-iku thok,” ujarnya suatu ketika. Dia ingin para pemain ludruk itu kreatif menciptakan kidungan baru, yang tanggap situasi, yang inovatif, dan mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat. Agaknya, kidungan terkenal Cak Durasim yang menghebohkan tentara Jepang itu, membuatnya masgul lantaran para pemain ludruk belakangan ini hanya ngidung itu-itu saja.

Lahir di Desa Curahjati, Kecamatan Tegaldlima, Banyuwangi, 15 Juli 1943, pendidikan formal dilakoninya sejak SR hingga IKIP di Malang, lulus sarjana tahun 1972, dan aktif menjadi wartawan hingga tahun 1986. Pendidikan Magister ditempuhnya di Fakultas Bahasa dan Seni jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, di Universitas Udayana, Bali, lulus tahun 2001. Sebagai Dosen di Univeritas Negeri Surabaya (Unesa), kesibukannya tentu makin meningkat, sehingga dunia jurnalistik total ditinggalkan oleh mantan Kepala Humas Unesa ini.

Beberapa buku yang pernah ditulisnya antara lain: Pengantar Studi Teater (untuk SMA), Pengantar Praktek Kewartaan (Pers Kampus), Pengantar Sastra Bandingan, Kamus Istilah Seni Drama dan Teater, Lakon Ludruk Jawa Timur, serta sejumlah buku yang digarapnya sebagai editor.

Henri Supriyanto, masih rajin berkelana dari tobong ke tobong, mencatat berbagai fenomena kesenian rakyat dengan mesin ketik manual, mengabadikan gambar dengan tustelnya yang kuno, dan menerbitkan menjadi buku dengan beaya apa adanya. Yang penting terbit, untuk kemudian dibagikan gratis ke komunitas seni tradisi. (*)

One Response

  1. pak kalau ada waktu saya ingin berbincang-bincang dengan bapak seputar ludruk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: