Didiet Hape: Penggerak Kesenian, Surabaya

Membina anak-anak jalanan memang bukan soal yang gampang. Namun Didiet Hape mampu melakukan dengan caranya yang khas, yakni menggunakan kesenian sebagai sarana. Mereka dilatih bermain musik yang bagus, diajar bersopan santun ketika mengamen di bus kota, bahkan dilatih secara khusus untuk tampil di atas panggung. Hasilnya, berbagai kejuaraan lomba musik diraih Sanggar Alang-alang, bahkan sempat pamer kebolehan di depan Presiden Megawati di istana negara.

Didiet Hadi Punomo, nama lengkapnya, pernah kuliah di Akademi Wartawan Surabaya (AWS), namun justru lebih banyak menghabiskan waktunya dalam kesenian. Sifatnya sebagai sosok yang cenderung mengayomi sudah nampak sejak masih SMA dan mahasiswa. Ia sering menggelar acara baca puisi dan pementasan drama. Dan bakatnya semakin mendapatkan saluran ketika bergabung dengan TVRI Stasiun Surabayasejak tahun 1977. Mula-mula sebagai reporter, terus meningkat hingga diserahi penanggungjawab beberapa acara, termasuk majalah udara Rona-Rona yang sempat berjaya tahun-tahun 80-90an. Lewat sarana Rona-rona inilah Didiet banyak melakukan perjalanan ke semua pelosok Jatim, merekam denyut jantung kehidupan masyarakat, dan tak dilupakannya nasib kesenian tradisional yang diambang punah, serta seniman-seniman rakyat yang terlupakan. Beberapa kejuaraan pun sempat diraihnya melalui acara yang dibanggakannya itu.

Didiet memang bukan sekadar pegawai yang pasif, namun bagaimana tetap bisa kreatif meski menghadapi kendala kedinasan. Ia gelar pameran topeng raksasa, hingga sempat dicatat dalam rekor Muri. Dia kumpulkan kerajinan dari berbagai daerah, kemudian diserahkan pada anak-anak jalanan binaannya untuk memberikan finishing berupa pernik-pernik artistik. Tentu saja kerajinan itu menjadi punya nilai tambah. Hingga harganya pun berlipat dibanding aslinya, dan ternyata banyak disukai konsumen, hingga melayani pesanan ekspor segala. Dalam hal ini, jasa istrinya yang pelukis sangat membantunya.

Lelaki berambut panjang dan selalu dikuncir ini memang mengabdikan hidupnya untuk kemajuan anak-anak jalanan. Bermarkas di seputar subterminal Joyoboyo, ia dirikan Sekolah Malam Pengamen (SMP) dan Sekolah Malam Asongan (SMA), sebuah plesetan nama sekolah untuk menyindir nasib kurang beruntung anak-anak yang tak sempat sekolah formal itu. Karena eksistensinya itulah beberapa kali markasnya menjadi jujugan para peneliti asing untuk memahami kehidupan anak-anak jalanan itu. Bahkan perjuangannya itu sempat melunakkan sebuah bank yang membantunya dengan sebuah mobil sekolah keliling.

Tidak heran, karena pengabdiannya yang tak kenal lelah. Lelaki berusia 53 tahun ini pernah mendapat Surabaya Award dari Surabaya Academy yang dimotori Radio Suara Surabaya. Gigih, rendah hati, pengayom, itulah sosok Didiet Hape. (*)

2 Responses

  1. saya ingin mewawancarainya berkaitan dengan tugas saya kebetulan saya juga berada di surabaya. bolehkah saya meminta aamat atau nomor teleponnya ? terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: