Sumitro Hadi, Peraih Penghargaan Seni dari Gubernur Jatim

Hadiah Masa Pensiun untuk Mantan Penari Kampung
Lahir dan besar di keluarga seniman, Sumitro Hadi, 56, menerima penghargaan dari Gubernur Imam Utomo berkat dedikasinya yang tinggi terhadap pengembangan dan pelestarian seni kebudayaan. Khususnya di Bumi Blambangan ini. Penghargaan itu sekaligus hadiah terindah di masa pensiunnya.

ALDILA AFRIKARTIKA, Banyuwangi
—-

Lahir dan besar dari keluarga yang sangat mencintai seni Sumitro Hadi atau yang biasa dipanggil pak Mitro, 56, warga Desa Gladag Kecamatan Rogojampi Banyuwangi sejak kecil telah bergelut dengan seni tari dan budaya Banyuwangi.

Memasuki masa pensiunnya, 1 September 2007 lalu, Pak Mitro menerima penghargaan dari Gubernur Jawa timur Imam Utomo, seniman tradisi berkat prestasi dan pengabdianya dalam bidang seni dan budaya. “Itu merupakan hadiah terindah dalam hidup saya,” ujarnya ketika di temui di rumahnya kemarin.

Tidak mudah, menerima penghargaan itu. Pak Mitro dinilai oleh tim penghargaan seni yang terdiri dari H Akudiat, prof Dr Budi Dharma, Bambang Sujiono, Musafir Isfanhari, Roby Hidayat, Rudi Isbandi, Prof Dr. H Sam Abede Pareno MM. “Yang menilai sangat profesional sekali, saya kaget dan sempat tidak percaya bahwa bisa membawa pulang penghargaan ini,” ujar lelaki yang hoby menari ini.

Anak pasangan Sukoso Hadi Santoso yang dulunya menjabat lurah selama 24 tahun dan liswati, sejak duduk di bangku kelas 2 SPG Pandan Genteng sudah menciptakan tari berjudul Lelewari lare Banyuwangi. Dan sebuah lagu yang berjudul banteng tangi. Pak Mitro mengatakan ayahnya dulu seorang paju gandrung, dimanapun ada gandrung ayahnya selalu hadir. Sehingga tidak dapat dipungkiri jika gandrung sangat melekat dalam kehidupanya.

Hingga saat itu, Pak Mitro menjadi seorang penari dari kampung satu ke kampung yang lain. Dengan menciptakan gerak- gerik secara otodidak. Namun, banyak juga seniman lainnya yang mengajarinya cara menari yaitu Sahmul, Mbah Said, dan H Suparman. “Mereka sangat berjasa, sehingga saya memiliki berbagai macam gerakan dalam sendra tari,” ujar pria kelahiran 16 Agustus 1951.

Pak Mitro menambahkan pada PON ke VII tahun 1969, dia menari di Surabaya dan tahun 1970 tepat kelas 3 Pak Mitro juga tampil sebagai penari bersama rombongan kontingen Banyuwangi di Istana Negara Republik Indonesia Jakarta. Yang menampilkan tarian jaran goyang ciptaan Parman Cs, itulah penampilanya yang paling berkesan. “Tampil pertama di istana sebagai penari dan sebagai koreografi di istana tahun 2007 kemarin. Tampil perdana di istana negara dan tampil terakhir di istana, seperti sudah ada yang ngatur,” cetusnya.

Bahkan setelah lulus dari SPG tahun 1980, Pak Mitro diangkat sebagai GTT khusus kelas tari. Lalu diangkat sebagai guru di SMP 2 Rogojampi, setelah itu dipindah ke Pemkab Banyuwangi di Dispenda, hingga Humas. Pak Mitro mengaku setelah itu ditarik jadi penilik kebudayaan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dan menjadi kasi kebudayaan, naik jabatan menjadi kasi kesenian Masyarakat hingga akhirnya menjadi kasi seni adat tradisi hingga pensiun. “Tarian Banyuwangi itu tidak ada pakemnya, lalu saya membuat nama setiap gerak-geriknya. Dan dibantu oleh Hasan Ali, sehingga ide dasarnya perintis pengembangan seni tradisional yang sasaranya sekolah,” jlentrehnya.

Pak Mitro yang saat ini menjadi pemilik sanggar tari jingga putih, melatih ratusan penari. Bahkan penarinya, yang sudah mahir banyak yang diminta oleh instansi di Banyuwangi. Tidak sedikit pula, penari lulusan sanggar Jingga putih menjadi pelatih tari di kota-kota besar seperti Surabaya, Malang hingga Jakarta. “Saya ingin seni dan budaya Banyuwangi, tetap eksis salah satu caranya yakni peningkatan kualitas dan penyebaran pelatih,” ujarnya.

Selain itu, Pak Mitro menambahkan di dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah diwajibkan ada materi seni tari. Sehingga kesenian di Banyuwangi tetap terus eksis dan tidak mati termakan zaman. “Banyuwangi bisa mengenal dirinya lewat budaya, dan nilai budaya wujud kepribadian,” katanya.

Berkat keeksisanya pada seni, Pak Mitro menyandang puluhan penghargaan seperti koreografi terbaik, sutradara terbaik, penata drama tari terbaik, penata musik terbaik dan penyaji terbaik. Selain itu, berbagai pertunjukan pun pernah diikutinya, mulai festival tari anak, parade daerah, seni pertunjukan, tari keprajuritan, kemilau nusantara di Bandung, Pawai Budaya Nusantara, Festival Musik Bambu, hingga tampil di Istana negara dan Parade Midosudji di Jepang.

Pak Mitro mengaku jika Banyuwangi memiliki seni dan budaya yang sangat bagus. Tetapi penghargaan dari Banyuwangi sangat minim, padahal seni dan budayalah yang dimiliki Banyuwangi. “Penghargaan ini tidak hanya kebangaan buat saya, tetapi buat seluruh masyarakat Banyuwangi. marilah bersama melestarikan seni dan budaya Banyuwangi,” pungkasnya.*

Radar Banyuwangi, Selasa, 09 Okt 2007

One Response

  1. Selamat untuk Pak Sumitro Hadi atas penghargaan seni dari gubernur,, munkin agak terlambat ucapannya,,

    I’m proud of you Pak,,
    bangga pernah menjadi bagian dr “jingga putih” selama 6 tahun (1998-2004)🙂

    Sukses selalu buat Pak Mitro & keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: