KEMBANGKAN WISATA, Diperlukan Dialog Seniman


Surabaya – Surabaya Post, Pemberian penghargaan terhadap sepuluh budayawan dan seniman oleh Gubernur Jatim Imam Utomo, sudah sepuluh tahun berjalan. Namun selama itu, bagi Gubernur, masih banyak persoalan yang belum tertangani. Misalnya keiinginannya untuk mewujudkan dialog antara seniman dan birokrasi atau Surabaya yang hingga kini belum mempunyai museum yang reprsentatif.

Keiinginan dan harapan Imam Utomo ini disampaikan kepada panitia penyelenggara penghargaan budayawan dan seniman 2007, Dewan Kesenian maupun para senimannya yang hadir di Kantor Dinas P dan K, Sabtu (7/10). Kedatangan ratusan seniman ini, selain menerima penghargaan sebagian lainnya menerima taliasih bertepatan dengan Lebaran.

“Tahun depan, saya tidak menjabat Gubernur lagi. Saya berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini tapi bisa dilanjutkan oleh pejabat pengganti saya nanti,” ujar Imam yang disambut tepuk tangan undangan.

Dengan banyak seniman yang menerima penghargaan, kata Imam Utomo, dia merasa bangga. Berarti ada perkembangan yang positif. “Namun kenapa wisata kita kok belum juga bergairah. Padahal, seni dan wisata itu mestinya bersinggungan erat,” jelas dia.

Dipaparkan Imam, Jatim mempunyai beberapa desa wisata yang kalau dikelola secara profesional dan disatukan dengan seni, tentunya akan berkembang baik. “Karena itu saya berharap mereka yang bergulat dengan seniman, bisa mengembangkan di desa wisata yang ada,” jelas dia.

Kendalanya apa, Imam tidak tahu jelas. Namun, meski jabatannya tidak lama lagi, Imam masih menginginkan adanya dialog yang harmonis antara seniman dan birokrasi. Selama ini, sepertinya berjalan sendiri-sendiri.

“Seniman mempunyai program sendiri, Dinas Pariwisata, begitu dinas lain yang berkaitan dengan seniman juga kurang seirama. Karena itu, saya ingin ada dialog sehingga apa yang dibutuhkan dinas terpenuhi, begitu juga sebaliknya,” jelas dia.

Belum adanya museum yang representatif di Surabaya juga menjadi bahan lontaran Imam Utomo. Seperti pernah terjadi, beberapa tahun lalu, sejumlah perupa tua, seperti Rudi Isbandi, Liwung Sumarno, M Roeslan dan lainnya sempat bertandang ke Imam Utomo untuk mendesak Surabaya perlu museum.

Saat itu, Gubernur juga menyanggupi dan menunjuk beberapa tepat atau gedung sebagai alternatif untuk museum. Namun setelah itu tidak terdengar kabar lagi dan meseumpun tidak terwujut hingga sekarang. Menurut catatan Surabaya Post, pada masa Gubernur Basofi Soediram yang dinilai dekat dengan seniman, pernah diajukan tapi juga tidak terwujut.

Bekas Museum Mpu Tantular pernah “dinyatakan” sebagai museum atau gedung kesenian, Rudi Isbandi merasa bangga. Setiap kali ada acara, termasuk pergelaran baca puisi, dia juga hadir karena bangga Surabaya punya gedung museum.

Namun perkembangannya, bekas Museum Mpu Tantular itu kini “berpindah” tangan pengelolaannya dan tidak lagi dibawah Dinas P dan K. Inilah yang masih menjadi cita-cita Imam Utomo.

Sementara itu, sepuluh budayawan dan seniman yang diserahkan oleh Gubernur antara lain, Agus Sunyoto (sastrawan), Bolet (pemain ludruk/penari remo), Tjuk Sudarman (kertunis/karikatur), Emil Sanosa (penulis skenario), Max Arifin (teater), Sabrot D Malioboro (penyair/penggiat seni), Subiantoro (musisi etnik/kontemporer), Sumitro Hadi (seniman tradisi/tari), Solomon Tong (musisi klasik) dan Umi Kulsum (seniman ludruk). (gim)

Surabayapost.info. | Senin 08/10/2007 13:32:36

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: