Agus Sunyoto, Penulis Cerbung Radar Kediri, Sastrawan Berprestasi Jatim

Buktikan Desa Keling sebagai Pusat Kerajaan Kalingga
Agus Sunyoto tak pernah menyangka. Cerita bersambung (cerbung) Babad Jenggala Pangjalu yang ditulisnya di Radar Kediri, ternyata, membuahkan penghargaan dari Gubernur Jatim Imam Utomo di bidang sastra. Karya tersebut digali dari prasasti, cerita rakyat, dongeng, dan naskah kuno.

ABU MUSLICH, Kediri

Tak ada binar wajah gembira berlebihan. Hanya senyum simpul menghias bibir Agus Sunyoto. Begitulah ekspresi sastrawan kelahiran Surabaya, 21 Agustus 1959, itu setelah menerima penghargaan dari Gubernur Jatim Imam Utomo, Sabtu lalu.

Bersama sembilan seniman Jatim lainnya, Agus dinilai mempunyai dedikasi, prestasi, dan warisan monumental. “Biasa saja. Ya, alhamdulillah ada pengakuan dari gubernur. Semoga bermanfaat,” kata Agus kepada Radar Kediri datar. Dia mengakui, salah satu pertimbangan tim didasarkan pada karyanya tersebut.

Untuk diketahui, cerita bersambung Babad Jenggala Pangjalu menjadi salah satu ciri khas Radar Kediri sejak terbit pertama kali pada 1999 sampai sekarang. Karya sastra tersebut dinilai oleh tim Pemprov Jatim sebagai upaya penggalian sejarah Indonesia dan bentuk pengabdian terhadap seni budaya (sastra) Indonesia di Jawa Timur.

Jenggala Panjalu, menurut Agus, adalah asumsi pembagian sistem masyarakat Nusantara yang sudah berlaku sejak lama. Sistem masyarakat tersebut adalah matrilineal atau keibuan dan patrilineal atau keayahan. Sistem masyarakat matrilineal dianut masyarakat pantai dengan sebutan Jenggala. “Sedangkan patrilineal dianut masyarakat pedalaman dengan sebutan Panjalu sebagai lambang laki-laki,” jelasnya.

Salah satu episode Babad Jenggala Pangjalu yang merupakan hasil penggalian sejarah adalah Pedang Kalingga. Kisah indah tersebut berlatar kebesaran Kerajaan Kalingga dalam perjuangan penegakan hukum pertama kali di Nusantara.

Data sejarah tentang Kerajaan Kalingga, menurut Agus, selain berdasarkan prasasti dan cerita rakyat, juga digali dari catatan pengelana dari China bernama Fa Hin dan I Shing semasa Dinasti Tang pada abad 6 atau abad 7, sezaman dengan Kerajaan Kalingga.

Yang mengejutkan, dari penelitian alumnus IKIP Surabaya tersebut diketahui, lokasi Kerajaan Kalingga berada di Kediri, Jawa Timur. Tepatnya, di Desa Keling, Kecamatan Kepung. Catatan Fa Hin dan I Shing menyebut Kalingga dengan Ho Ling. Lokasinya berada di Pacialung dengan ibu kota Chop’o atau Kepung sekarang.

Penyebutan Pacialung adalah Panjalu yang berarti daerah pedalaman. Sedangkan ibu kota Kerajaan Kalingga yang berada di Ko Pu adalah Kepung. “Dalam bahasa Jawa kuno berarti benteng,” terangnya.

Dalam catatan tersebut diceritakan, kota Chop’o dikelilingi pagar balok setinggi 3 meter sampai 4 meter. Bangunan istana raja bertingkat dua dengan singgasana dari gading berhias emas dan permata.

Ratu Kalingga yang terkenal bernama Imo, seorang perempuan yang tegas dan keras dalam hukum. Dalam catatan Parahiyangan Kuno, menurut Agus, mertua Prabu Sanjaya adalah Raja Kalingga Selatan. Sehingga, asumsi yang paling mendekati kebenaran adalah Desa Keling, di Kediri tersebut.

Ini sekaligus membantah pendapat para sejarawan yang menyebut bahwa Kalingga berada di Pekalongan. Sebab, ada unsur kesamaan dalam penyebutan ’Kalingga’ dan ’Pekalongan’. Pendapat inilah yang ditentangnya. “Pekalongan itu baru ada pada Mataram Islam,” jelas pria bertubuh tinggi besar itu.

Untuk diketahui, sejak kuliah di Fakultas Seni Rupa IKIP Surabaya, Agus sudah produktif menulis. Lalu, sambil menyelesaikan S2-nya di IKIP Malang, dia pernah bekerja sebagai wartawan Jawa Pos. Tidak seperti novelis lain, Agus Sunyoto dikenal dengan karyanya yang berdasarkan catatan-catatan sejarah. Tepatnya, sejarah yang ditulis dalam bentuk novel.

Sejumlah karyanya yang terkenal adalah serial ’Suluk Abdul Jalil, Perjalanan Spiritual Syaikh Siti Jenar’ yang ditulis hingga tujuh jilid. Juga, Rahuvana Tattwa yang dibukukan dari cerita bersambung Babad Jenggala Pangjalu tersebut.

Atas dedikasinya itu, selain piagam penghargaan, Agus juga mendapat hadiah berupa jam tangan dan uang Rp 10 juta. Lalu, untuk apa? “Kebetulan anak saya sepeda motornya baru tabrakan. Uangnya bisa saya gunakan untuk memperbaiki sepeda motor anak saya,” jawabnya. (*)

Radar Kediri, Senin, 08 Okt 2007

2 Responses

  1. pak, saya mahasiswa universitas negari surabaya jurusan pendidikan sejarah. pak saya mau tanya bagaimana menulis artikal? rencana saya mau mengkaji mengenai sistem patrilineal dalam kerajaan mataram islam sebagai legitimasi kekuasaan raja melalui konsep Trah mataram.bgai mana yang harus saya kali?apakah bapak ada saran?
    tolong dikabari saya ya pak…yrimekasih atas bantuannya.
    no hp 085645772724

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: