TAMSIR AS: Sastrawan, Tulungagung (1936-1997)

Dalam khasanah susastra Jawa, nama Tamsir AS selain dikenal sebagai sastrawan yang produktif, juga sebagai “suh”, pengayom dan pembimbing Sanggar Sastra Triwida yang berdiri sejak 18 Mei 1980. Sanggar sastra Jawa yang memiliki anggota dari kawasan Blitar, Tulungagung dan Trenggalek ini telah melahirkan sastrawan-sastrawan Jawa yang kini sangat mewarnai peta susastra Jawa seperti Bonari Nabonenar, Narko Sudrun, Tiwiek SA, Yudhet, Harimuko dan sebagainya. Kegigihannya mengangkat sastra Jawa dari Sastra Majalah ke Sastra Buku ditunjukkan dengan memprakarsai penerbitan empat buah novel Jawa dalam serial Puspus. Upayanya yang serius ini dilakukan bersama Anggarpati dan Soepartobrata. Meskipun, belakangan dalam hal pemasaran belum menuai hasil yang menggembirakan. Buku-buku itupun lantas ngendon di gudang rumahnya.

H. Tamsir Arif Subagyo, nama lengkapnya, lahir di Tulungagung, 21 Juni 1936. Belajar di Sekolah Guru A pada BPG Bandung, berijasah tahun 1960, pernah kuliah di IKIP Kediri jurusan Civiek Hukum. Setelah itu bekerja sebagai guru SD, meningkat menjadi Kepala SD dan terakhir sebagai Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Kalidawir, Tulungagung tahun 1990. Selain sebagai PNS, Tamsir juga pernah menjadi wartawan majalah Penyebar Semangat (PS), redaktur tabloid berbahasa Jawa “Jawa Anyar”, Ketua Komisariat Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) Jawa Timur, pendiri dan ketua Sanggar Sastra Triwida Tulungagung. Disamping itu, salah satu pengarang sastra Jawa Gagrak Anyar seangkatan dengan Esmiet dan Soepartobrata ini juga pernah bermain film layar lebar “Operasi Trisula”.

Mulai menulis cerpen berbahasa Jawa tahun 1954-1996, menulis cerita bersambung dan naskah drama, artikel dan reportase bahasa Jawa. Tidak kurang dari 286 cerkak (cerpen) dihasilkannya, 41 cerbung, 16 buku bacaan anak-anak (inpres), buku pelajaran SD-SMP, muncul sebagai buah tangannya. Tamsir pernah lima kali dijadikan bahan tesis dan skripsi mahasiswa UGM, UNS, Universitas Jember, IKIP Surabaya (Unesa) yang meneliti cerita bersambungnya. Disamping itu, juga pernah dua kali menjadi pemakalah dalam Kongres Bahasa Jawa dan narasumber berbagai seminar, sarasehan bahasa dan sastra Jawa di Jatim, Jateng dan DIY.

H. Tamsir AS, meninggal dunia tanggal 14 Januari 1997 di desa Tenggur, Kec. Rejotangan, Kab. Tulungagung, meninggalkan seorang istri dan tiga anak (dua putra, satu putri). (*)

(sumber: Buku Penghargaan Seniman Jatim, 2003)

 

2 Responses

  1. Ingin sekali aku mempersembahkan diriku untuk trenggalek ku,jawa ku dan indonesiaku
    untuk Sastra,semoga ada jalan,ada peluang dan sumbang sih ku di terima.Salam Sastra

  2. wah baru tahu aku kalau pak tamsir as sdh meninggal.

    dulu pernah membaca bbrp buku karya beliau diantaranya jaka tole (atau sawunggaling ya??) trus satu lagi judul lupa, tentang tulungagung atau trenggalek gitu ……. lainnya juga rutin membaca cersam di panjebar semangat.

    Salam
    Eko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: