SOEDARSO (pelukis, Sidoarjo)

Diam-diam di sebuah desa di Sidoarjo, hidup seorang pelukis senior Indonesia berusia senja yang pernah menjadi pelukis kesayangan Bung Karno. Soedarso namanya, lahir tahun 1914 di Adjibarang Banyumas, sudah melukis sejak anak-anak dengan menggunakan kunyit dan pewarna dari bahan tumbuhan lainnya. Bapak delapan anak ini pernah mengalami masa kejayaan ketika masih bersama-sama dengan Affandi, Dullah dan Sudjojono membentuk Empat Serangkai, disamping juga tergabung dalam Pusat Tenaga Rakyat bagian kebudayaan. Mereka mendapat tugas khusus untuk memacu dan mengelola kegiatan seni di masa itu. Salah satu pelukis yang kemudian berhasil diorbitkannya adalah Trubus. Deretan nama-nama pelukis besar Indonesia itu telah tiada, kecuali seorang Soedarso, yang tinggal di desa Lebo, Jl. Panglima Sudirman, Sidoarjo.

Posisi pelukis waktu sedemikian bernilai di mata negara. Soedarso dkk mendapat tugas melukis poster perjuangan di kereta api menentang Inggris Nica. Entah karena wajahnya yang melankolis atau penampilannya yang memelas sehingga Bung Karno sampai menyayanginya. Mungkin karena menyadari nasib seniman yang tak menentu dari sisi ekonomi sehingga Bung Karno sering mengusik Darso dengan kalimat, “Darso, rupamu kok memelas. Kowe ojo mulih disik yo, yen durung mangan.” Sampai dengan tahun 60-an itulah masa-masa kejayaan Soedarso. Dan ketika rezim berganti, perubahan politik itu ternyata tidak membawa angin baik baginya.

Ketika ASRI didirikan, Darso sempat mengajar di sana selama beberapa tahun. Namun Darso memang berjiwa petualang, ia jelajahi kota demi kota, hingga akhirnya menetap di Sidoarjo, bersama dengan isterinya, Mariani. Di rumah inilah dia menghabiskan masa tuanya, dengan tetap melukis sepanjang dia mampu melakukan dalam kondisi ketuaannya. Kalangan pelukis Sidoarjo dan Surabaya kadang-kadang masih mengajaknya untuk pameran, meski seringkali tak bisa diikutinya. Belakangan lukisan-lukisannya banyak yang dijual ke Bali, demi menyambung kelangsungan hidup keluarganya.

Sementara putranya, Sudariono, pernah kuliah di ISI dan sekarang mampu eksis sebagai pelukis di Jakarta, juga Soedargo yang mapan jadi pelukis di Jogjakarta.

(sumber: Buku Penghargaan Seniman Jatim, 2002)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: