RATNA INDRASWARI IBRAHIM (Sastrawan, Malang)

Sastrawan produktif yang lahir di Malang 24 April 1949 ini, bukan sekadar menjadikan menulis sebagai kehidupan profesionalnya. Lebih dari itu ia menjadi “Ibu” bagi para pekerja sosial, kesenian; terakhir ia membuat Forum Kajian Ilmiah Pelangi (2001) yang bermarkas di rumahnya, Jl. Diponegoro 3.A Malang. Forum ini mampu menjadi oase, kantong budaya, karena mengakomodasi berbagai elemen masyarakat (termasuk pengangguran) dalam diskusi persoalan aktual setiap bulan.

Dalam peta susastra nasional, karya-karya cerita pendek Ratna sudah diperhitungkan. Tiga kali berturut-turut cerpennya masuk dalam antologi cerpen pilihan Kompas (1993-1996), cerpen pilihan harian Surabaya Post (1993), serta juara tiga lomba penulisan cerpen dan cerbung majalah Femina (1996-1997). Juga karyanya terpilih masuk dalam Antologi Cerpen Perempuan Asean (1996). Sementara produktivitasnya terus mengalir dengan cerpen-cerpen yang dimuat di Kompas, Horison, Basis, Suara Pembaruan, Kartini, Sarinah, Jawa Pos dan banyak lagi. Dan terbitnya dua buku kumpulan cerpennya, Namanya Massa dan Aminah di Suatu Hari.

Secara fisik Ratna memang tidak bisa mobile lantaran cacat sejak lahir. Anggota tubuhnya nyaris tak bisa difungsikan. Sehari-hari dia harus berada di kursi roda, makan pun harus disuapi. Tetapi Tuhan Maha Besar, cacat fisik seperti ini bukan menjadi hambatan untuk mengembangkan pribadinya, bertumbuh menjadi perempuan yang punya wawasan luas, punya empaty dan kepercayaan diri. Sikap dasar Ratna adalah mensyukuri apa yang ada pada dirinya. Disamping rajin menulis, sejak 1977 dia juga aktif menjadi ketua Yayasan Bhakti Nurani Malang, Disable Person Organization, sebagai Direktur I LSM Entropic Malang (1991). Dan karena aktivitas sosialnya inilah dia mendapat kesempatan mengikuti berbagai seminar internasional, seperti Disable People International di Sydney (1993), Kongres Internasional Perempuan di Beijing (1995), Leadership Training MIUSA di Eugene Oregon USA (1997), Kongres Perempuan Sedunia di Washington DC (1997), serta pernah mendapat predikat Wanita Berprestasi dari Pemerintah RI (1994).

Proses kepenulisannya, ia banyak mendapat inspirasi dari historiografi, yakni menceritakan kejadian-kejadian masa lampau, baik berunsur sejarah atau legenda. Anak kelima dari 10 bersaudara ini mengaku bahwa bakat kepengarangannya menurun dari simbah buyutnya yang menjadi pawang cerita di Minang. Maka secara seloroh ia berkata, “sebenarnya saya ini berani mengklaim sebagai sastrawan lisan.” Dalam proses kepenulisannya, karena cacat fisik yang tidak memungkinkan dia menulis langsung, maka Ratna yang pernah mengenyam pendidikan di FIA Unibraw (tidak selesai) ini hanya mendikte pada para pembantunya untuk mengetik, baru kemudian merevisinya.

Dengan perjuangan teknis seperti itulah cerpen dan novelnya lahir, dan memiliki karakter yang sangat khas dengan kewanitaannya, sehingga Prof. Dr. Budi Darma pernah berkomentar, “sebagaimana halnya cerpen Ratna terdahulu, kita merasakan kelembutan perasaan Ratna. Dia pengarang berhati lembut, berhati peka.”

Ratna masih dan akan terus berkarya, meski di mata orang lain barangkali akan terlihat betapa repotnya. Tetapi sejarah tetap mencatat bahwa nama Ratna Indraswari Ibrahim tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kesusastraan Indonesia.

(sumber: Buku Penghargaan Seniman Jatim, 2002)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: