Mbah Mun, Rasa Cinta Membuatnya Bertahan

karimun.jpgMBAH Karimun, meski sudah uzur, saban waktu mesti melintas di sela-sela acara kesenian di seputar Malang. Dua bulan lalu, ia masih menyaksikan festival topeng di Padepokan Seni Mangun Dharmo, Tumpang, milik seniman Sholeh Adipramono. Beberapa waktu sebelumnya Mbah Mun-begitu seniman berusia 82 tahun ini dipanggil-masih menyisihkan waktu menghadiri pementasan topeng malangan di Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang.Semua pementasan ia nikmati dari atas kursi roda. Ada dua seniman Malang yang setiap kali selalu beraktivitas dari atas kursi roda. Satu lainnya cerpenis Ratna Indraswari Ibrahim.

Kedua-duanya seakan berprinsip, berkesenian bukan soal mengolah raga, tetapi lebih pada mengolah rasa. Makanya, Ratna tetap mendiktekan cerita-ceritanya kepada siapa saja yang bisa membantunya. Dalam kerentaannya, Mbah Mun masih mengolah kayu menjadi topeng berlanggam malangan.

Bedanya, Ratna cacat sejak lahir, sedangkan Mbah Mun menjadi lumpuh karena tragedi tabrak lari yang menimpa dia tahun 1995 silam. Waktu itu, sebuah mobil sedan menabraknya dari belakang ketika penari topeng itu hendak mengurus pementasan kelompok keseniannya. Akibat tabrak lari itu, Mbah Mun tidak hanya lumpuh, ia bahkan harus berutang sana-sini untuk membiayai pengobatan kakinya.

Mbah Mun memang mengeluh: sebagai seniman penganut setia langgam malangan, seakan nasib baik tak pernah berpihak padanya. “Beginilah, setiap hari saya masih membuat topeng. Menari tak mungkin lagi. Paling-paling hanya memberitahu,” tutur Mbah Mun kepada Kompas suatu kali. Tetapi, keluhan itu selalu diiringi dengan tindakan keras kepala. Mbah Mun tetap setia melakoni hidupnya sebagai seniman yang mewarisi kesenian malangan. Keputusan yang berani, atau setidak-tidaknya nekat.

***

DI rumahnya di Desa Kedungmonggo, Kecamatan Pakishaji, Malang, di dekat tungku dapur ia tetap memahat. Gurat-gurat pada kayu seperti mewakili masa-masa sulit yang telah ia jalani selama ini. Ruang dapurnya penuh aroma kayu dan arang pembakaran. Seperti tanah kering yang tiba-tiba didera hujan. Penuh kehausan akan kreativitas.

Sementara sang istri, Siti Maryam (53), memberi warna topeng-topeng yang sudah berujud. Sepanjang hari, kalau rematiknya tak kumat, Mbah Mun duduk di situ. Dari pintu dapur tampak di halaman tergeletak potongan-potongan kayu untuk bahan baku topeng.

Rumahnya masih seperti dulu: separuh gedek, separuh tembok. Gambaran seperti itu selalu tak jauh dari nasib para seniman tradisi. Bahkan banyak yang akhirnya tiada dalam gelimang kemiskinan yang mencekam. Pelukis Ida Bagus Nyoman Rai, yang mewakili aliran Sanur, Bali, ditemukan meninggal di gubuknya. Ia ditemukan setelah beberapa hari meninggal. Tak ada harta berharga, kecuali beberapa gulungan lukisan yang tak selesai.

Mbah Mun memang masih punya keluarga yang setia merawat di masa tuanya yang penuh keprihatinan. “Banyak yang belajar membuat topeng malangan kemari, tetapi umumnya anak muda sekarang kurang sabar, ingin cepat bisa,” tutur Mbah Karimun dengan suara parau. Ia terbatuk. Tulang iganya menonjol. Sebagian besar kulit yang membalut tubuhnya menggelambir. Tak hanya karena tua, tetapi kemiskinan yang terus-menerus menikamnya.

Mbah Mun mengungkapkan, karena ia lumpuh praktis Sanggar Asmoro Bangun yang dipimpinnya tak banyak beraktivitas. “Kalau latihan saya tak bisa lagi membimbing mereka. Paling-paling hanya kasih tahu,” katanya. Di luar soal itu, Asmoro Bangun kini seperti lumpuh seiring menurunnya kondisi fisik Mbah Mun.

Ketika masih segar, Mbah Mun tidak hanya menari. Ia juga menjadi dalang dan membuat topeng-topeng kayu. Keahlian itu ia warisi dari ayahnya, Serun. Serun, sebagaimana layaknya orang desa, adalah petani sekaligus seniman.

“Saat-saat senggang dari kerja sawah, ayah mengajari saya menari topeng dengan gamelan dari mulutnya,” kenang Mbah Mun. Masa-masa itulah yang ingin diulang Mbah Mun. Nyatanya zaman telah berubah. Profesi sebagian besar anggota Asmoro Bangun adalah buruh tani, sopir, pedagang, dan pelajar. “Hanya saat akan ada pementasan, anggotanya baru latihan,” kata Mbah Karimun.

***

DI mana-mana di Indonesia, untuk tetap survive kesenian tradisi harus pontang-panting. Sebagian kesenian di Bali harus berkompromi dengan industri pariwisata. Maka, beberapa seni yang tergolong sakral pun akhirnya dikemas untuk para turis. Bali memang diuntungkan pariwisata.

Malang? Meski malang-melintang mencanangkan diri sebagai daerah wisata, tetap sajalah orang seperti Mbah Mun tak mendapat tempat. Mbah Mun kini mencoba melanjutkan hidupnya dengan tetap memahat topeng. Ia “terpaksa” menciptakan topeng-topengnya dalam bentuk cenderamata. Itu semata siasat untuk mencoba terus bertahan. Kadang-kadang ada juga yang pura-pura bersimpati, tetapi justru akhirnya mencekik Mbah Mun.

Tahun 1993, misalnya, pernah seorang pejabat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Malang memesan 900 topeng malangan. Topeng itu rencana akan digunakan anak-anak SD pada pembukaan jambore pramuka se-dunia. Sialnya, topeng yang terambil hanya sekitar 100 biji. “Saya rugi banyak sekali waktu itu, beberapa bahkan sampai kini masih saya simpan,” ujarnya.

Mbah Mun cerita, waktu itu ia harus mempekerjakan beberapa warga desa untuk menyelesaikan pesanan dalam waktu singkat. Tetapi, Mbah Mun tidak menyerah. Jepitan ekonomi boleh saja menghantui hidupnya sehari-hari. Rasa cinta itulah yang membuatnya terus bertahan, sampai kini. Di tengah memudarnya minat kaum muda terhadap kesenian-kesenian tradisi, Mbah Mun justru kian meneguhkan rasa cintanya. Ia tetap memahat, seperti menorehkan keperihan sejarah hidupnya. Dalam seluruh guratan topengnya terbaca kepedihan nasib seni malangan. (Putu Fajar Arcana)

Sumber: >KOMPAS, Rabu, 14 November 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: