Maestro Remo Munali Patah

Berjuang dengan Gongseng dan Sampur

Jika harus menyebut pejuang seni tradisional yang masih gigih hingga sekarang, Munali Patah adalah salah satunya. Munali adalah seorang maestro (tari) Remo, penggerak ludruk yang tak kenal menyerah. Munali adalah ikan yang berada dalam sungai kesenian rakyat sejak masih anak-anak. Ludruk, Remo dan Munali Patah, adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Hidup dalam lingkungan yang kental dengan tradisi kesenian, Munali kecil justru tak bisa leluasa menyalurkan bakat menari. Keluarganya tergolong miskin. Tak ada gamelan yang dapat dipergunakan untuk mengiringinya. Pada waktu itu, gamelan hanya dimiliki oleh orang-orang kaya, oleh para juragan, yang sekaligus menjadi simbol status mereka.

Namun semangat besar tak mampu dibendungnya untuk belajar menari. Kebesaran tekadnya mendorong Munali mengeksplorasi diri di tengah-tengah realitas lingkungan dan fasilitas yang seadanya. Beruntung Pak Patah, ayah Munali, dengan kuat mendorong anak lelaki ini untuk serius belajar menari, dengan atau tanpa gamelan. Maka menarilah Munali kecil dengan iringan “gamelan mulut”. Kadang ada teman atau ayahnya yang “mengiringi” dengan pukulan tangan di kotak kayu.

Kondisi seperti ini sebetulnya bukan hanya dialami seorang Munali. Para seniman tradisional yang belakangan menjadi besar namanya, juga mengalami masa-masa sulit ketika mereka kecil hidup di lingkungan yang terbelit kemiskinan. Justru dengan kondisi lingkungan yang seperti itulah menjadikan mereka berkesenian secara intens, merasuk dalam hati sanubari dan menyatu dengan jiwanya. Apa yang disebut-sebut dengan Wayang Dhong Nangka setidaknya menyiratkan kondisi waktu itu, dimana untuk memainkan wayang orang saja mereka harus menggunakan rajutan daun-daun nangka sebagai kostumnya.

Beruntung Munali memiliki ayah yang tahu persis kemauan anaknya. Sebagai orangtua, ia hanya mendorong agar anak lelakinya ini mampu mewujudkan cita-citanya, menjadi apa saja. Ia tak peduli dengan pilihan anaknya, meski secara tersirat sebetulnya dia berharap sang jagoan kecil itu suatu ketika dapat hidup sebagai seniman. Bukan orientasi ekonomi yang dipikirkannya, namun dengan menjadi seniman (dia percaya) akan mendapatkan dunia dalam yang damai, dan mampu memberikan kedamaian hati pada banyak orang.

Lahir di Sidoarjo tanggal 17 Mei 1924 dari Patah dan Sutiah, pasangan orangtuanya itu memang hidup dalam lingkungan kesenian rakyat, semacam kesenian yang sekarang ini disebut ludruk. Apa yang masih melekat dalam ingatan Munali tentang nasehat ayahnya adalah: “Urip dadi apa wae kena, pokoke bener, temen lan tumemen.” Maksudnya, bercita-cita menjadi apa saja itu boleh-boleh saja, asal dijalani dengan benar, giat dan penuh kesungguhan.

Hidup di lingkungan para penggiat ludruk membuat Munali memiliki cita rasa seni yang kuat dan mengendap dalam dasar jiwanya. Bagi Munali, keakrabannya dengan dunia ludruk ini dijadikan sarana untuk lebih mengeksplorasi semangatnya untuk belajar menari. Ia terus menerus mengakrabi tubuhnya sendiri sebagai media ekspresi. Paling-paling dia merambah ke wilayah ngidung yang menjadi bagian pembuka pertunjukan ludruk. Pengalaman menjadi pemain memang bukan berarti disingkirinya, namun mengolah tubuh dalam gerak-gerak tari dirasa lebih memuaskan hatinya.

Begitulah, ketika usianya menginjak angka 14 tahun (1938), Munali bergabung dalam kelompok ludruk Rukun Makno. Sebagai remaja yang hendak beranjak dewasa, seperti mendapatkan lahan baru untuk menyemaikan bakat dan terus memupuk semangatnya untuk menjadi seniman. Ia ingin mewujudkan wejangan ayahnya, bahwa menjadi seniman pun, asal dijalani dengan serius, akan tetap dapat berguna bagi masyarakat dan lingkungannya. Hidup serasa tidak bermakna manakala tidak dapat memberikan manfaat bagi sesamanya?

Jaman Perjuangan

Pada masa-masa awal revolusi fisik (1945-1950), Munali tak membiarkan dirinya hanya sibuk dengan kesenian, namun ikut larut dalam situasi perjuangan waktu itu. Bersama dengan Cak Durasim (tokoh ludruk legendaris itu) dia menggabungkan diri dalam gerakan pembela kemerdekaan yang bernama Alap-alap. Apa yang dilakukan kelompok ini adalah menyebarkan semangat kemerdekaan pada rakyat melalui sarana kesenian (ludruk). Karena itu, “senjata” yang mereka gunakan adalah gongseng (rangkaian bel kecil di gelangan kaki) dan juga sampur (selendang untuk ngidung).

Ketika gejolak revolusi mulai agak reda, Munali bergabung dengan kelompok Ludruk Jelmaan Baru. Itu terjadi tahun 1949-1950. Sementara itu pelan-pelan Munali terus mengolah kemampuannya menari dan belajar secara otodidak khusus tari Remo. Pada masa-masa inilah Munali mulai dikenal namanya sebagai penari remo yang berbakat. Karena itu ketika tahun 1963 Munali masuk anggota Ludruk RRI Surabaya, andalannya adalah ngidung, beksa ngremo disamping sering memainkan tokoh berkarakter Madura yang kemudian menjadi ciri khasnya. Sebagai PNS, hal itu dijalani hingga pensiun tahun 1983.

Dalam perjalanan sebagai pemain ludruk itulah tanpa terasa akhirnya Munali mampu menciptakan gaya remo tersendiri yang khas dari dirinya. Remo Munali ini mampu eksis di tengah pakem-pakem remo lainnya. Remo Gaya Munali ini diakui oleh kalangan tari. AM Munardi menyatakan, bahwa (remo) gaya Munali memiliki kepekatan, kekentalan struktur tari yang membentuk gugus pola baku yang mapan dan mantap. Tari Remo Gaya Munali lantas menjadi materi pelajaran pokok di SMKI, mata kuliah pokok di STKW Surabaya, setelah sebelumnya dikembangkan di IKIP Negeri Surabaya (kemudian berganti Unesa) dan sejumlah perguruan tinggi seni di Indonesia. Soenarto AS dari STKW mengakui, Remo gaya Munali ini memiliki keluwesan sedemikian rupa sehingga memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut. Tari Remo lantas menjadi ukuran kepiawaian seorang penari, sehingga sempat lahir ungkapan “kalau belum bisa Remo belum bisa menari.”

Menanggapi perkembangan tari Remo, terutama pengembangan gaya yang diciptakannya, Munali sangat bersyukur karena apa yang dimiliki dan diraihnya dapat bermanfaat bagi masyarakat luas. Penafsirannya tentang tari Remo berakar pada pemahaman awal bahwa tarian tersebut berasal dari Ngelana, artinye berkelana, kemudian berkaitan erat dengan konsep mulih, atau kembali pulang. Hal ini ada kaitannya pula dengan filosofi Jawa Sangkan Paraning Dumadi yang dipahami sebagai arah dan tujuan hidup. Remo dalam pemahaman spiritual bagi Munali merupakan pengembaraan batin, kedamaian rasa dalam memahami nilai hayati yang dijalani secara lahir batin, baik dalam berbudaya seara vertikal maupun horisontal.

Pemahaman seperti ini membawa Munali tetap teguh sampai sekarang memelihara kontinuitas dan intensitas dalam berkesenian sebagai penari. Pengembaraan mental spiritual yang mendalam, dalam perjalanan meniti hidup, terungkap pada penuturan dan nasehat dari ayahnya. Dikisahkan, pada suatu ketika Munali duduk berbincang-bincang dengan ayahnya. Munali diminta merasakan keringat yang meleleh dari tubuhnya, kemudian ditanya, “bagaimana rasanya”. Munali menjawab, “asin”. Kemudian Munali diminta menafsirkan sendiri makna “asin” tersebut. Secara implisit, peristiwa tersebut lebih mengisyaratkan makna pencarian hidup untuk mencapai kewaskithaan, kebijaksanaan hidup. Hal ini sejalan dengan pengalaman hidup para pelaku seni yang selalu didasari oleh lelaku. Bahwasanya, sakderengengipun ngremo rumiyin kula ngelana. Untuk meraih cita-cita diperlukan pengembaraan mental, spiritual dan lahir agar dapat memiliki kematangan dan kemapanan.

Sosok Munali memang lebih suka merendah, tak suka menonjolkan kemampuannya sendiri. Bahkan, ketika berinteraksi dengan orang lain, Munali justru lebih suka mengagumi lawan bicaranya. Seperti halnya ketika bertemu dengan Rusman, seorang tokoh wayang orang Sriwedari Surakarta yang biasa memerankan Gatutkaca. Rusman waktu itu memuji Munali sebagai Penari Pethingan, yaitu penari yang dinilai memiliki gaya maupun kualitas yang melebihi penari lainnya. Namun justru Munali balik memuji Rusman sebagai penari yang patut diteladani karena mencapai tahapan kepenarian secara prima. Munali juga sangat menghargai Remo gaya lainnya, seperti Remo Bollet yang memadukan remo gaya Jombang dengan gaya miliknya. Sikap merendah inipun juga dirasakan oleh kalangan pemain ludruk RRI saat Munali aktif memimpin mereka. Munali begitu memperhatikan kebutuhan-kebutuhan kecil (sampai urusan peniti) para pemain, baru kemudian mengurusi kebutuhannya sendiri. Ketika melihat seorang pemain gamelan mengenkan kaos yang sudah sobek, Munali segera menghampiri bendahara agar membelikan kaos baru baginya. Dia agaknya punya prinsip, bahwa kerja kesenian itu tidak harus identik dengan kekumuhan dan tidak terurus. Bahwa seniman dan pekerja seni harus diposisikan secara terhormat dan layak.

Nampaknya, prinsip kesenimanannya ini ada hubungannya dengan perjalanan hidup Munali sebagai seniman yang hidup di lingkungan keluarga yang juga cinta seni. Bahwa seni, bagi Munali, adalah satu-satunya pilihan hidup. Bagi Munali, “kesenian iku menggarap nilai hayati dalam batin dan rasa.”

Pada usianya yang mencapai angka 79 tahun sekarang ini (tahun 2003), toh dia tetap aktif membina para pekerja seni tradisi, melatih ngremo dan karawitan ludruk serta wayang di rumah sederhana di Banjar Kemantren, Buduran, Sidoarjo yang ditinggali bersama istri dan beberapa orang putranya.

Hidup tidak pernah punya kepentingan untuk memiliki dan pamrih (Urip gak milik lan pamrih) adalah motto hidupnya. Kesahajaan dan kerendahan hati yang mewarnai seluruh gaya hidupnya, juga tutur katanya, menjadikan seorang Munali semakin disegani. Pusat Lembaga Kabudayan Jawi (PLKJ) di Surakarta pernah memberikan penghargaan khusus pada Munali dengan hadiah dari Gubernur Jawa Tengah. Penghargaan yang serupa juga diberikan oleh panitia Festival Cak Durasim 2002. Terakhir, penghargaan sebagai seniman peduli kesenian tradisi, juga didapat dari Gubernur Jawa Timur akhir tahun 2002.

Dari sejumlah tali asih yang pernah diterimanya, satu yang paling berkesan mendalam adalah sebuah bendera merah putih dan potret Bung Karno. “Seumur hidup saya, baru saat ini saya meneteskan air mata. Tali asih itu sangat bernilai bagi saya, mengingatkan betapa besar pengorbanan seniman-seniman ludruk yang turut berjuang untuk bendera ini, seperti Cak Durasim dan sejumlah teman yang tergabung dalam Alap-alap Surabaya.

Bagaimanapun, sejumlah penghargaan tersebut di atas tidak mengubah gaya hidupnya. Sampai sekarang dia tetap tidak makan wohing dami kinukus. Tetap bertahan dalam keprihatinan dan kebersahajaan, sembari tetap menjalankan tugasnya sebagai seniman. Apa yang ingin dipesankannya pada pemerintah adalah, “kalau pemerintah memang serius mempertahankan dan mengembangkan seni tradisional, khususnya ludruk, hendaknya menyediakan sarana yang memadai.”

Munali tetap setia menebar sampur sebagai benih-benih nilai hayati untuk anak cucunya. Kibasan sampur, hentakan gongseng adalah detak jantungnya. Kepenarian tetap menjadi pilihan hidup satu-satunya. (R. Djoko Prakoso, dari berbagai sumber)

(sumber: Majalah Kidung, terbitan Dewan Kesenian Jawa Timur)

2 Responses

  1. Pak, saya mencari musik gamelan tari remo dari Munali Fatah dalam bentuk CD. dimana saya bisa mendapatkan musik tersebut? mohon informasinya.
    terima kasih

    best regard
    Yeni

  2. tulisannya pak joko sungguh mengena di hati pembacanya….

    berulangkali saya hampir meneteskan air mata… tapi saya tahan…. namun akhirnya jatuh juga….

    yang saya sesalkan adalah saya tak sempat bertemu dengan pak munali untuk memberikan apresiasi tertinggi saya terhadap beliau….

    perjuangan beliau bersama teman-temannya sungguh sangat saya rasakan dalam kehidupan berkesenian saya saat ini…

    yang bisa saya lakukan hanyalah meneruskan perjuangan beliau untuk tetap mempertahankan kesenian tradisi tari remo ditengah-tengah kemajuan jaman seperti saat ini…

    dan saya sangat berterimakasih kepada pak joko yang sudah menulis artikel ini… karena artikel ini sangat membangkitkan motivasi dan menginspirasi saya sebagai generasi penerus untuk tetap semangat dalam kehidupan berkesenian.

    terimakasih….

    doakan q ya…. semangaaaaaatttttttttt…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: