H. MOEKIT FAQTURROZI (dramawan, Surabaya)

Kenangan terhadap Pak Moekit adalah kecintaannya untuk terus menyemangati agar teater tetap berdenyut adalah dengan membuka apa yang disebut Bank Naskah. Dia himpun sendiri ratusan (pernah mencapai 278) naskah dari berbagai penulis di rumahnya sendiri. Para pekerja teater yang membutuhkannya dapat meminjam. Toh banyak naskah yang tak pernah kembali lagi ke tangan Pak Moekit. Tidak pakai jaminan waktu meminjam? Lantas Pak Moekit menunjukkan puluhan SIM, STNK, KTP yang juga tak pernah diambil oleh para peminjam itu.

Lelaki ini hampir saja terlupa dalam catatan aktivitas teater di Surabaya. Padahal, sekian tahun yang lalu, nyaris tak ada kegiatan teater di kota ini yang tak menyebut namanya. Peran Pak Moekit, begitu panggilannya, berada di posisi membina anak-anak muda untuk menyukai teater, baik dalam proses pementasan langsung maupun dalam lomba drama. Ia dikenal memiliki tangan dingin dan tekun menemani para pemula. Apa yang disebut Lomba Drama Lima Kota (LDLK) yang digelar beberapa kali (1971 – 1995) adalah karya monumentalnya. Dari arena ini lahir sejumlah nama dramawan handal Surabaya, seperti Niki Kosasih dengan Teater Remaja Yudha, juga Anang Hanani dan Sam Abede Pareno. Pak Moekit sendiri mendapat penghargaan seni atas dedikasinya menyelenggarakan LDLK dari para pekerja teater Surabaya. Bahkan, sempat dibuat Yayasan LDLK yang dijalankan anak-anak muda.

Lahir 30 Juni 1924, Moekit Faqturrozi, sudah memulai berteater pada awal-awal negeri ini merdeka. Dengan kelompok sandiwaranya, dia berkeliling daerah-daerah terpencil untuk menyampaikan penerangan pada penduduk desa perihal kabar bahwa negeri ini sudah merdeka. Perjuangan berteater itu terus menerus dilakukannya, termasuk harus mengeluarkan dana sendiri, berkunjung ke sanggar-sanggar teater untuk memberikan motivasi pada anak-anak muda. “Teater adalah tempat melatih kreativitas dan belajar berbagai ilmu,” kalimat itulah yang selalu disampaikan pada mereka. Kalangan pekerja teater sekarang ini, baik yang masih aktif maupun sudah “istirahat” pasti mengakui jasa besar Pak Moekit menumbuh-kembangkan kehidupan teater di Surabaya dan Jatim.

Sebagai organisator, selama belasan tahun dia juga pernah duduk di Biro Teater Dewan Kesenian Surabaya. Dan kini, pak Moekit tinggal menikmati masa tuanya dengan 9 anak, 28 cucu, dan 10 cicit. Dia masih tinggal bersama Subingah, istri setianya, di Jl. Bubutan kulon 21 Surabaya.

(sumber: Buku Penghargaan Seniman Jatim, 2002)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: