EMHA AINUN NAJIB: Budayawan, Jombang/Yogyakarta

Sulit sekali meyakinkan bahwa Emha Ainun Najib memang layak menerima penghargaan dari pemerintah propinsi Jawa Timur kali ini. “Saya sudah out of context,” ujarnya ketika ditemui di Yogyakarta. Dunia seni yang sudah digeluti puluhan tahun dengan sekian banyak karya, toh Emha masih merasa risi disebut seniman. Pikiran-pikirannya cenderung orisinal, penuh retorika dan seringkali “nakal”. Tidak heran jika dia berada dalam posisi dikagumi banyak orang sekaligus tidak disukai orang-orang tertentu.

Budayawan yang juga sering disebut Kyai mBeling ini memang suka merendah. Tidak mau disebut penyair, seniman, budayawan, bahkan menyebut semua yang telah dilakukannya adalah biasa-biasa saja. Padahal masyarakat mencatat kiprahnya sebagai seniman yang terus berkarya, budayawan, Da’i yang rajin berdakwah, intelektual yang terus menerus ikut memikirkan negri ini. Tapi Emha tak pernah dan tak mau terikat dengan kekuatan sosial politik apapun, terus mengembara tanpa payung lembaga.

Emha memang orang pertama yang berdomisili di luar Jatim yang menerima penghargaan kali ini karena jasa-jasanya telah sangat banyak bagi perkembangan seni budaya di Jatim. Boleh saja dia tak mau mengakui apa yang telah diperbuatnya, namun masyarakat Jatim telah merasakan jasanya. Bahkan, meski telah jadi tokoh nasional, kibaran namanya selalu menyebut-nyebut kota Jombang sebagai tanah kelahirannya.

Prinsip kerjanya yang tidak berpamrih juga dikatakan kepada anak-anak buahnya di komunitas Kyai Kanjeng, “terus saja berkarya, nanti Gusti Allah yang akan membelinya.” Maka permintaan demi permintaan pentas tak kunjung henti, termasuk baru saja kembali dari keliling Malaysia dan sehabis Lebaran nanti keliling Australia. Emha menolak dibukukan biografinya, namun luapan gagasan yang muncul dari dalam pikirannya di berbagai kesempatan telah menghasilkan lebih dari 21 buku yang sudah terbit.

Lahir di Jombang 27 Mei 1953, anak keempat dari 15 bersaudara ini pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren Gontor, dan duduk sejenak di bangku kuliah Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta. Namun nalurinya justru menuntun langkah pertama menjadi penyair dibawah panji Persada Studi Club asuhan Umbu Landu Paranggi. Tahun 1980 mengikuti lokakarya teater di Philipina, International Writing Program di Iowa University, AS (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam (1984), Festival Horison III di Berlin (1985).

Bersama Novia Kolopaking (artis yang menjadi istrinya, anak-anaknya, serta sebagian keluarga dan komunitas Kyai Kanjeng, Emha tinggal di Jl. Raya Wates Gang Barokah No. 287 Yogyakarta, telp 0274.618811. (*)

(sumber: Buku Penghargaan Seniman Jatim, 2003)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: