BUDI DARMA: Sastrawan, Surabaya

Sebagai sastrawan, cara bertuturnya dalam tulisan cenderung absurd, pikirannya meloncat-loncat dan liar. Ketika berceramah bicaranya meluncur lancar, nyaris tak perlu diedit lagi meski disampaikan tanpa makalah. Sebagai dosen, pendapat mahasiswa sangat dihormati, lebih suka diskusi dan memberi tugas. Namun dalam keseharian, Guru Besar yang pernah menjadi Rektor IKIP Surabaya ini (sekarang Unesa) selalu tampil santun, rapi dan bersikap ramah pada setiap orang.

Budi Darma, banyak dikenal namanya melalui karya-karya sastranya yang telah dibukukan, antara lain: Orang-orang Bloomington, Olenka, Rafilus, Solilokui, Sejumlah Esai Sastra, Ny. Talis, Warisan, Kritikus Adinan dan Harmonium. Sedangkan dalam bentuk makalah ilmiah tak terhitung lagi karena undangan ceramah terus mengalir dari berbagai negara. Terakhir, sebuah cerpen panjang berjudul “Vovo” dimuat di Jurnal Prosa berisi pengalamannya selama di Singapura. Memang, selama setahun penuh (2002) Budi Darma dikontrak mengajar di Nanyang Technological University, bagian Institut Pendidikan, dalam mata kuliah Teori Sastra dan Sastra Melayu Modern.

Ditemui di sela-sela Rapat Kerja Unesa di Hotel Purnama Batu, Budi Darma memiliki catatan tersendiri terhadap kemunculan sastrawan wanita Indonesia belakangan ini. Mereka merupakan satu generasi baru dalam sastra negeri ini yang merepresentasikan pemberontakan terhadap kungkungan terhadap dunia wanita. Apa-apa yang dulu dianggap tabu, dengan berani dibuka blak-blakan. Hal ini terjadi karena wanita sekarang telah membuktikan diri sebagai gender yang berprestasi, yang memiliki pendidikan tinggi. Namun justru karena kesadaran gender itulah mereka juga sadar bahwa mereka masih berada dibawah dominasi kaum laki-laki. Analog dengan kesadaran ketika dijajah Belanda justru ketika banyak anak negeri yang mendapat pendidikan tinggi dan kesadarannya terbuka. Karena itulah mereka mencari jalan keluar, yakni bicara hal-hal tabu, yaitu seks. Ini adalah manifestasi yang paling langsung terhadap dunia laki-laki, dan baru merupakan langkah pertama. Kecenderungan seperti ini juga terjadi di negara-negara lain.

Lahir di di Rembang, 25 April 1937, sarjana sastra Inggris UGM ini meraih S-2 dan S-3 di Indiana University USA. Penghargaan yang pernah diterima antara lain: Bintang Bhakti Wisuda (1983) dari UGM, Penulisan Esai Sastra dari Menmud Pemuda (1982), The Marquis Who’s Who in the World (1983) dari USA, Sea Write Award, Penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta, dan terakhir (2003) dari Harian Kompas atas jasa-jasanya dalam percaturan cerpen di Indonesia.

Pakar filsafat satra ini telah menjadi kakek seorang cucu. Namanya Darwinda (6 tahun) karena ketika lahir Budi berada di Darwin. Bersama istrinya, Sita Resmi, SH, anak dan seorang cucunya, Budi Darma tinggal di perumahan Kampus Unesa Ketintang 43 Surabaya, telp. 031.8280804. (*)

(sumber: Buku Penghargaan Seniman Jatim, 2003)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: