BUBI CHEN: Musisi, Surabaya

Musisi jazz papan atas di Indonesia ini pernah juga disebut sebagai pianis jazz terbaik Asia versi majalah jazz terkemuka Amerika, Downbeat. Joachim Ernst Berendt, kritikus jazz dari Jerman, menyebutnya the Art Tatum of Asia. Sejak kanak-kanak, Bubi memang suka mendengarkan karya dewa-dewa jazz seperti Art Tatum hingga Artie Shaw dan Benny Goodman. Bakat musiknya agaknya menurun dari ayahnya yang menjadi pemain violin. Dia belajar sendiri dengan meniru permainan improvisasi solo George Shearing dan Art Tatum. Juga melakukan belajar melalui korespondensi dari Wesco School of Music – New York dibawah bimbingan pemain piano ternama Teddy Wilson.

Lahir di Surabaya 9 Februari 1938, Bubi seringkali tampil bersama Bubi Chen All Stars, ditemani dua putranya, Bowie Chen yang memainkan Conga dan Benny Chen yang memainkan drum. Di atas panggung, jari jemarinya sangat piawai bermain di atas tuts piano. Hampir di setiap lagu Bubi mengeksplorasi nada sehingga lagu menjadi sangat berbeda dan kaya nuansa. Selain itu, Bubi kadang menambahkan lengkingan nada yang menyerupai suara vokal melalui kibor yang dimainkannya. Agaknya hal itu disengaja sebagai pengganti vokal, lantaran dia mengaku tidak bisa menyanyi.

Pada umumnya penggemar musik jazz memang dikenal fanatik, sehingga mereka terang-terangan tidak setuju ketika ada musisi jazz yang memainkan lagu pop misalnya. Konsistensi pada musik jazz itulah yang mereka kagumi, sebagaimana halnya terdapat pada diri Bubi Chen. Dia adalah profil yang konsisten di jazz, meskipun, risikonya, “agak tenggelam” sebagaimana ‘nasib’ jazzer-jazzer sejati. Toh menurut Bubi, jazz tidak harus selalu menjadi konsumsi masyarakat kelas atas.

Belajar piano sejak usia 3 (tiga) tahun, dan intensif belajar piano dua tahun kemudian pada DeLucia, seorang guru musik asal Italia, diteruskan kursus piano dengan Joseph Bodmer dari Swiss. Bubi juga belajar piano klasik dari Joseph hingga berusia 16 tahun. Masih berumur 15 tahun, Bubi sudah bergabung dengan band yang dipimpin kakak tertuanya, Teddy Chen, bermain Jazz dan musik dansa ballroom. Bubi sangat kenyang berkolaborasi, bergabung dalam grup atau membuat album bersama para jazzer ternama di berbagai negara. Konsernya telah menjelajah lima benua. Undangan studi banding berulangkali datang dari Jepang, Australia dan Amerika Serikat. Pentas jazz bergengsi tahunan, JakJazz sudah menjadi langganannya, sejak kali pertama, juga North Sea Jazz Festival di Nederlan.

Tahun 1990, Bubi mendirikan Virtuoso Band, yang sesuai dengan namanya, terdiri dari personil-personil yang piawai dalam bidang/instrumennya masing-masing. Setelah beberapa kali berganti personil, sekarang beranggotakan Bubi Chen sendiri pada Keyboard, Totok Afiat pada Bass, Benny Chen pada Drums, Howie Chen pada Conga & Percussion dan Thya Anhar sebagai vokalis wanitanya.

Tahun 1989, Bubi Chen mendapat penghargaan dari Walikotamadya Surabaya sebagai warga yang berprestasi. Dari istrinya, Anne Chen, Bubi dikaruniai anak Howie Chen, Benny Chen, Yana Chen (semua laki-laki), dan si bungsu Serena Chen (perempuan). (*)

(sumber: Buku Penghargaan Seniman Jatim, 2003)

 

One Response

  1. Pada tahun 1960 (usia 22 tahun) ia sudah dikenal sbg the best pianist from asia, dan waktu main di Bandung tahun 1960 bersama Jack Lemmers (lesmana) bertemu dengan Tony Scott (klarinet). Tidak banyak orang seperti Bubi Chen. Skrng tinggal di Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: