ARIBOWO: Penggerak Kesenian, Surabaya

Ketika terpilih menjadi ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) tahun 1993, banyak orang meragukan kesenimanannya. Meski ketua DKS tidak diharuskan seorang seniman, sebetulnya Aribowo bukan orang yang asing dengan kesenian. Ketika masih SMA, sudah bergabung dalam LIA Painting Circle pimpinan Krishna Mustadjab, menulis cerpen dan esai sastra di Harian Bhirawa, dimana Suripan Sadihutomo menjadi pengasuh budayanya. Sejumlah karyanya kemudian dimuat di Harian Kompas ketika dia kuliah di Fisipol UGM Yogyakarta.

Sukses memimpin DKS, arek Suroboyo dari kampung Simo ini terpilih menjadi ketua umum Dewan Kesenian Jawa Timur (DK-Jatim) hingga berakhir awal tahun 2003 yang lalu. Sementara dalam perjalanan memimpin lembaga tersebut, banyak diundang menjadi pembicara kesenian dan kebudayaan, terlibat dalam banyak kegiatan kesenian, disamping sibuk mengajar di Fisip Unair dan Universitas Al Falah Surabaya. Tepat lima tahun, jabatannya di DK-Jatim berakhir, juga terbilang sukses.

Satu hal yang menjadi perhatiannya adalah dunia penerbitan, sehingga Buletin DKS sempat beberapa kali terbit dengan tampilan mewah, juga majalah Kidung dari DK-Jatim, serta sejumlah buku kesenian yang terbit atas prakarsanya. Lembaga kesenian, katanya, idealnya juga mampu berfungsi menjadi semacam school of thinking. Itu pula sebabnya acara-acara semacam diskusi dan seminar serta pelatihan seniman menjadi prioritasnya.

Namun perjalanan kariernya nampaknya tidak bisa jauh dari disiplin ilmunya. Namanya sering muncul di media massa sebagai pengamat politik. Dia juga aktif di CPPS, sebuah LSM yang menyoroti kebijakan publik, kemudian menjabat ketua Pusat Studi Demokrasi dan HAM (Pusdeham) Fisip Unair. Dalam posisi inipun sejumlah buku diterbitkannya, rata-rata yang berkaitan dengan politik dan kemiliteran. Tidak heran ketika dibentuk Komite Pemilihan Umum (KPU), Aribowo pun terpilih dalam seleksi menjadi salah satu anggotanya, wakil ketua dan plh. Ketua KPU Jatim. Apalagi, dalam Pemilu yang lalu, dia sudah terlibat dalam Panwaslu.

Lahir di Surabaya tahun 1 Agustus 1958, anak pertama dari 5 bersaudara ini beristrikan Latifah yang dikaruniai seorang putri dan dua putra. Mereka adalah Lirih Iva Annisa (18 tahun), Adil Amir Amarullah (8 tahun), M. Labaik (5,5 tahun). Alamatnya di Medokan Ayu III.F/9 Surabaya. (*)

(sumber: Buku Penghargaan Seniman Jatim, 2003)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: