Mardi Luhung, Penyair Keturunan Tionghoa Lahir di Gresik

Puisi tentang Pencarian Diri hingga Polusi

Penyair H.U. Mardi Luhung membuat terobosan. Penyair yang paling produktif di Gresik itu pada Maret nanti me-launching buku kumpulan sajak selama 10 tahun terakhir.

CHUSNUL CAHYADI, Gresik

SENIN, 29 Januari kemarin sekitar pukul 12.00, Hendry Untung Mardi Luhung terlihat duduk bersila di atas tempat duduk terbuat dari tiga lonjoran besi di depan Alun-alun Gresik Jl KH Wahid Hasyim.

Matanya terus menatap tajam ke arah sekelompok mahasiswa yang sedang menggelar demonstrasi menolak PP 37/2006. PP yang sebelumnya bisa membuat para wakil rakyat tersenyum karena mendapatkan rejeki nomplok dari uang rakyat.

Dari mulut penyair keturunan Jawa-Tionghoa dan Madura yang bernama asli Oei Hendry, hanya terdengar bait-bait puisi. Aku diletakkan diantara dagingmu//Yang digarami persetujuan dan perseteruan// Akan mengambang diantara kebijakan mu// Sambil menjilati garammu itu/./

Lewat bidang dadamu// Aku melihat harihari jadi seperti babi// Mengendus-endus digigit di pedang tajam// Sambil menyeret tubuhnya sedikit-sedikit dibelah// Lalu lukaluka darah meleler// Darahmu ataukah sekalian darahku//.

Dan itu bercampur seperti adonan yang diubek dalam piala kristal para sakit//Yang sekaligus penguasa dan pemegang tali// Para akrobat yang ketika di malam-malam sedap memutar bulan// Seperti memutar pantat// Pantatku yang keras dan kering ini.

Puisi itu berjudul Cium Bibir yang Kelabu. “Puisi itu bercerita tentang Gresik,” kata H.U Mardi Luhung. Dimana, bercerita tentang pencarian seorang peranakan yang hidup di kota santri (sebutan lain Kabupaten Gresik, Red.).

“Dengan Sunan Giri (salah satu Wali Songo) tidak dekat, dengan orang Tionghoa juga tidak dekat,” tambah alumnus jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Jember itu. “Hingga polusi udara,” kata pria kelahiran 5 Maret 1965 mengawali ceritanya.

Cium Bibir yang Kelabu inilah yang akan dijadikan sampul buku kumpulan sajak H.U. Mardi Luhung mulai 1996-2006. Buku setebal 200 halaman yang masih dalam tahap finishing juga berisi kumpulan sajak, di antaranya berjudul, Terbelah Sudah Jantungku (1996) dan Wanita yang Kencing di Semak (2002). “Dan dilengkapi dengan gambar-gambar seperti komik,” katanya.

Komik yang menceritakan kegetirannya hidup di kota industri. Hidup di suatu kabupaten yang penuh polusi. Bahkan, untuk menanam sebatang pohon untuk mengurangi dampak polusi, rakyat tidak mempunyai tempat. “Polusi merajalela. Pohon pun akhirnya ditanam di dalam tubuhnya,” kata suami Ny Mas Indasah sambil memperlihatkan sketsa karya komik bergambar hitam dan putih.

Guru Sastra, Sejarah dan Seni Rupa di SMA Nahdlatul Ulama 1 Gresik itu mengaku, untuk menerbitkan buku kumpulan sajak, dia tidak sendirian. Ada beberapa sponsor yang telah membiayainya. Di antaranya, PT. Semen Gresik (persero) Tbk, Pemerintah Kabupaten Gresik, Budayawan Dukut Imam Widodo, dan Akar Jogjakarta.

H.U Mardi Luhung adalah salah satu penyair yang paling produktif di Gresik. Sehingga, bapak tiga anak, yakni, Hening Siti Hajar,15, Aji Syaiful Ramadhan, 12 dan Bening Siti Aisyah, 8, ini sering mendapatkan berbagai penghargaan. Pada 2006 lalu, mendapatkan Anugerah Seni Sastra 2006 dari Gubernur Jatim Imam Utomo, nominasi ketiga , lomba Puisi Indonesia versi Media Cetak 2006, Juara kedua masing-masing, Lomba Penulisan Esai tingkat Guru Se-Indonesia pada 2000 dan 2005. (*)

RADAR GRESIK, Selasa, 30 Jan 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: