Jumaadi, Perupa Asal Sidoarjo yang Eksis di Sydney

gepeng-1.jpgKecewa, Pekerja Seni Indonesia Tidak Fair

Seorang perupa asal Sidoarjo memilih bermukim di Sydney, Australia. Jumaadi, begitu namanya, beberapa hari ini memamerkan karyanya di CCCL (Pusat Kebudayaan Perancis) Surabaya.

Satriyo E.P, Sidoarjo- Ratih P, Surabaya

MENDENGAR nama Jumaadi, seorang warga Sidoarjo kontan mengeryitkan dahinya. Tampak, nama itu tidak terlalu akrab di telinganya. “Siapa dia?” ujar Riza, warga Kota Sidoarjo.

Bagi warga awam di Sidoarjo, Jumaadi memang tak begitu dikenal. Namun, sosok sederhana asal Dusun Pecantingan, Sekardangan, Sidoarjo kelahiran 25 September 1973 bukanlah orang sembarangan.

Nama Jumaadi, cukup dikenal di kalangan perupa di negeri kangguru, Australia. Dia memang perupa asal Indonesia yang “besar” di sana. Dalam 10 tahun terakhir, pria berjulukan Gepenk itu menghabiskan waktunya untuk kuliah, berkesenian, bekerja, bahkan berkeluarga di Australia.

Kekecewaannya terhadap dunia kesenian di negeri sendiri mendorong Jumaadi untuk bermukim di Sydney. “Di sini (Indonesia, Red) pekerja seninya tidak fair,” ungkapnya saat ditemui di sanggar yang dia dirikan di Pecantingan, Sekardangan, Sidoarjo.

Jumaadi menuturkan, untuk bisa eksis sebagai seniman di Australia, sesorang harus bekerja keras. Bahkan, harus bisa meraih penghargaan sebanyak-banyaknya agar dapat memperoleh suntikan dana dari Art Council, semacam dewan kesenian di sini.

Sedangkan di negeri sendiri, seorang seniman bisa saja tidak perlu bekerja keras meningkatkan kemampuannya. Meski demikian, masih bisa meraup penghasilan miliaran rupiah. Hanya karena hasil “ngecap” seorang kurator atau pengelola galeri, dan peran media massa. “Itu yang aku anggap tidak fair,” ujarnya. “Seniman, tidak dihargai melalui karyanya, tapi cuma karena pesan sponsor,” imbuh Jumaadi, dengan nada kesal.

Kini, Jumaadi pulang kampung. Dalam beberapa hari ke depan, dia akan menunjukkan eksistensinya melalui pameran lukisan bertajuk “Alam Buatan” di CCCL (Pusat Kebudayaan Perancis) Surabaya. Sebanyak 30 lukisan akan dia pamerkan mulai hari ini hingga 9 Februari mendatang.

Alam buatan karya Jumaadi ini merupakan sebuah alam metafora. Terdiri atas susunan puisi yang mengungkapkan hakekat kehidupan dan kemanusiaan. Yang bermuara dari kenangan masa kanak-kanak, dongeng, dan cerita rakyat. “Alam buatan merupakan potongan dari gambaran dunia, yang kemudian saya gabungkan sendiri,” ujar pria 33 tahun itu.

Dalam lukisannya, Jumaadi lebih banyak menggambarkan ingatan dari alam bawah sadarnya. Apa saja yang pernah terjadi pada masa lalunya. Selain itu, dia juga mencari kehidupan atau identitas dirinya sendiri melalui lukisan yang dibuatnya. “Karyaku berangkat dari pencarian sesuatu dalam diriku, yang kadang tersembunyi dan tak terdengar,” kata Jumaadi.

Di “Alam Buatan” Jumaadi, kosmos digambarkan dengan hutan, danau, bebukitan, dan sebuah jalan setapak seolah tiada ujung, menuju Yang Maha Indah. Selain itu, ada juga rumput kering, bukit, sungai, pohon tumbuh dari perut sepasang kekasih, lelaki menimang pohon kenari, bidadari terbang terbang, dan seekor kerbau. Da juga seorang ibu dan anak menjelajah alam mimpi.

Selain itu, ditampilkan juga lukisan dalam 42 panel. Seluruh lukisan tersebut, menggunakan media cat air, akrilik, pena, pensil, dan arang di atas kertas. (*)

RADAR SIDOARJO, Rabu, 24 Jan 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: