Budaya Indigeneous dalam Kesenian

Format penting kebudayaan dan kesenian Jawa Timur adalah berkembangnya apa yang disebut sebagai budaya indigeneous (BI). BI berkembang secara gradual sebagai sinkretis antara nilai adat, hukum adat, sistem pertanian tradisonal, dan sistem keagamaan baik dari Timur Tengah, Jepang, China, dan India. Di samping itu BI bertumpuh kuat dari berbagai varian, yaitu varian sinkretis antara nilai animesme-dinamisme dan hindu-budha, animesme-dinamisme dan Islam (konon melahirkan berbagai varian aliran keagamaan). Fenomena budaya ini mempengaruhi sistem sosial dan format teritori sistem pertanian sehingga melahirkan gejala Pandalungan (daerah pesisir laut Jawa dengan komunitas Islam, nelayan, pedagang, dengan bahasa dipengaruhi bahasa Madura), Mataraman (komunitas yang tinggal di pedalaman Jawa Timur, beragama Islam, tetapi dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya kerajaan Mataram, bertani), varian Tengger, Keling, dan Arek.

Konsekuensi varian budaya di atas mendorong munculnya seni rakyat di Jawa Timur antara lain Kiprah Glipang (Probolinggo), Tari Rateb (Sumenep), Jaran Kepang (Kediri),Tari Tiban (Tulungagung), Jaran Pegon (Madura),Wayang Beber (Pacitan), Tari Topeng (Malang) dan sebagainya. Kesenian rakyat ini sebagian masih berkembang dan sebagian mulai meredup. Kesenian rakyat yang masih berkembang adalah kesenian rakyat yang masih menjadi bagian sosio-kultur dan ekonomi rakyat setempat. Kesenian ini menjadi bagian penting dari simbol budaya agraris di Jawa Timur. Di samping itu kesenian rakyat yang masih berkembang juga didorong oleh kekuatan negara untuk dijadikan komoditi nasional dan internasional sebagai bagian dari industri pariwisata. Sedangkan kesenian rakyat yang lepas dari sosio-kultural dan ekonomi masyarakat agraris setempat dan bagian dari industri pariwisata negara mulai surut. Ketika sistem agraria dan pedesaan mulai berubah, dimana sistem sosial mengalami perubahan, maka beberapa bentuk kesenian rakyat di Jawa Timur pun mulai surut. Kesenian rakyat macam ini mulai lepas dari sosio-kultural dan sosio-ekonomi masyarakatnya yang sedang berubah. Misalnya musik Odrot dan Kongkil dari Ponorogo.

Pengaruh BI terhadap kesenian, seniman, dan budayawan Jawa Timur cukup kuat juga. Banyak tari, musik, lukisan, dan teater Jawa Timur kontemporer (utamanya yang ada di kota tertentu seperti Surabaya, Malang, Jember, Gresik, Tuban, Jombang, dan Banyuwangi) dipengaruhi atau paling tidak mendapat inspirasi kesenian tradisional (pengaruh BI). Novel-novel Muhamad Tohari, misalnya, banyak dipengaruhi kehidupan ronggeng daerah Mataraman di Jawa Timur. Atau seni Jaranannya Mulyono banyak mengambil nilai dan seni jaranan di Tulungagung.

Pengaruh ketiga adalah Budaya Negara (BN). Pengaruh BN terhadap kesenian dan kebudayaan Jawa Timur sebagai konsekuensi kuatnya konsep nation state (Negara Kesatuan Republik Indonesia=NKRI). Pengaruh NKRI terhadap seni dan budaya Jawa Timur nampak sekali dalam hal pola pengelolaan administrasi kesenian, tekanan terhadap kebinekaan dalam penyajian dan karya seni tertentu, dan pesan nilai NKRI (termasuk pesan tentang keamanan, kerukunan, dan pembangunan) dalam berbagai kesenian tradisional dan modern. Banyak kesenian Jawa Timur diarahkan menjadi instrumen dari BN ini. Selain ditekankan pada kebinekaan kesenian, persatuan dan kesatuan dalam bersikap dan berperilaku dalam kesenian, juga diarahkan menjadi instrumen pseude ideologi nasional yaitu pembangunan nasional. Tidak heran kalau di Jawa Timur, di daerah Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, dan Malang muncul ludruk binaan TNI (Tentara Nasional Indonesia). TNI sebagai kekuatan dan wakil negara yang penting sekali dijaman Orde Baru banyak mengarahkan ludruk Jawa Timur untuk mengembangkan wawsan kebangsaan di dalam masyarakat pedesaan.

1. Pengaruh Sosio-Kultural

Kesenian rakyat tradisional di Jawa Timur pada umumnya banyak dipengaruhi oleh perkembangan sosio-kultural masyarakat daerah setempat. Daerah Jawa Timur disekitar pesisir Utara pantai Laut Jawa penduduknya banyak bergantung dari hasil laut, wilayah pesisir, perdagangan, dan transportasi. Penduduk wilayah pesisir ini banyak dipengaruhi nilai Islam dan komunitas Madura. Karena itu disepanjang wilayah pesisir Pantai Utara Laut Jawa ini bahasa Madura banyak dipakai menjadi bahasa pergaulan, di samping bahasa Jawa masih tetap kuat.

Sistem mata pencaharian masyarakat pesisir, seperti dagang, jasa transportasi, eksploitasi laut, perkebunan, dan sebagian persawahan mempengaruhi sistem nilai budaya masyarakatnya. Secara antropologis pola budaya masyarakat pesisir ini sering disebut Pendalungan. Masyarakat budaya pendalungan banyak dipengaruhi pola budaya etnis Madura, nilai Islam, dan sistem matapencarian pesisir. Karena itu bentuk kesenian dan pola budayanya hampir sama dengan sistem budaya masyarakat Madura. Secara sosio-kultural ada benang merah antara nilai budaya Madura dengan beberapa kota yang disebut daerah Pendalungan, seperti kota dan kabupaten Pasuruan, Bondowoso, Probolinggo, Situbondo, Lumajang, dan Jember. Sistem nilai budaya Pendalungan ini banyak melahirkan seni bercorak keIslaman, seperti seni Hadrah, Dibaan, Terbangan, Zafin, pencak silat, qasidah, re-re-re, jaranan bodhak, jaranan kecak, pojian, kuda lumping, topeng dalang, kentrung, rodad, kenong telok, janger, terbangan, macapat, patrol, terbang glipang,

Di sisi lain wilayah Jawa Timur pedalaman, seperti Ngawi, Madiun, Magetan, Trenggalek, Ponorogo, Nganjuk, Kediri, Jombang, dan Mojokerto banyak dipengaruhi nilai Mataraman. Sistem nilai budaya Mataraman merupakan sistem nilai budaya yang banyak dipengaruhi budaya kerajaan Mataram Yogyakarta. Nilai budaya kraton yang aristokrat itu menjadi dasar budaya dan perilaku masyarakat Jawa Tengah pedalaman dan kemudian menyebar ke wilayah pedalaman di Jawa Timur. Masyarakat daerah Mataraman banyak hidup dari persawahan, perkebunan, hutan, dan perdagangan. Masyarakat wilayah Mataraman dalam berkesenian banyak dipengaruhi model kesenian Jawa Tengahan sehingga sebagian besar pola aristokrasi, keselarasan, keseimbangan, dan penuh simbolik menjadi bagian penting dari seni rakyat Mataraman. Seni rakyat jenis wayang kulit, ketoprak, wayang orang, dan reokan merupakan model kesenian penting wilayah ini.

Model seni budaya varian dari 2 sistem nilai budaya di atas, yaitu Pandalungan dan Mataraman, menyebar di wilayah lain seperti Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro. Surabaya merupakan kota besar yang setiap saat disuplai berbagai bahan makanan, sayur, ikan, daging, beras, dan hasil perkebunan lainnya menjadi salah satu distributor dan transaksi budaya penting di Jawa Timur. Tujuan urbanisasi masyarakat wilayah Mataraman dan Pendalungan sebgian adalah Surabaya. Karena itu Surabaya menjadi pusat perdagangan, industri, komunikasi, pendidikan, dan transaksi di Jawa Timur. Secara historis dan sosiologis pengaruh budaya Pendalungan dan Mataraman besar sekali terhadap masyarakat Surabaya. Di sisi lain, Surabaya adalah pintu bagi komunikasi, perdagangan, dan transaksi dengan dunia nasional dan internasional. Karena itu secara kultural budaya yang berkembang di Surabaya tidak lagi hanya diwarnai budaya Pendalungan dan Mataraman, tetapi ada nilai nasional, dan internasional.

Fenomena Surabaya sebagai kota besar itu tampak dari berbagai jenis kesenian apa saja yang ada di wilayah Mataraman dan Pendalungan pernah ada dan berkembang di Surabaya. Begitu pula pola budaya masyarakat luar Jawa Timur, luar pulau Jawa, dan bahkan pola Barat (westernisasi) juga berkembang subur di Surabaya. Ada yang memahami pola budaya rakyat Surabaya dengan istilah budaya Arek. Jika dilihat dari sejarah dan perkembangan sosiologi masyarakat Surabaya tampak sekali budaya Arek adalah budaya sinkretis dari budaya Mataraman, Pendalungan, dan hasil transaksi budaya dari proses modernisasi dan industrialisasi. Karena itu hampir semua bentuk kesenian rakyat, kesenian tradisional, dan modern pernah berkembang dengan baik di Surabaya. Dinas P dan K Jawa Timur pernah mengadakan festival kesenian daerah Jawa Timur dan ternyata yang memperoleh hadiah adalah grup reok dari Surabaya.

Wilayah varian lain seperti Lamongan, Gresik, Tuban, dan Bojonegoro secara kultural masyarakatnya banyak kemiripan dan dekat dengan pola Mataraman. Sementara masyarakat wilayah ini mayoritas beragama Islam, tetapi tidak banyak dipengaruhi oleh etnis Madura. Karena itu nilai Islamnya kuat, tetapi kultural Mataramannya masih kental. Karena itu gejala sinkretis antara nilai Pendalungan dan Mataraman masih kuat di wilayah ini. Banyak seni hadrah, dibaan, terbangan, zafin, dan kentrung hidup diwilyah ini akan tetapi juga berkembang dengan baik seni rakyat dengan pola ketoprakan, wayangan, dan gamelan seperti wayang Jawa Timuran, tandakan, ludruk, ketoprak, kentrung, dan tayuban.

Varian budaya di Jawa Timur juga berkembang dipengaruhi sistem sosio-budaya sub etnis yang ada di Jawa Timur. Ada budaya sub etnis masyarakat adat Tengger diseputar pegunungan Bromo.Kemudian ada sub etnis Osing diseputar Banyuwangi. Di samping itu berkembang pula budaya dari sub etnis suku Samin diseputar Bojonegoro, berbatasan dengan Cepu dan Blora di Jawa Tengah. Berbagai kesenian rakyat berkembang di wilayah sub etnis tersebut seperti wayang purwo, musik dan kentrung Osing, dan tarian adat Suku Samin.

2. Pengaruh Islam

Nilai Islam di Jawa Timur ternyata tidak hanya mempengaruhi pola sosio kultural masyarakat Pendalungan. Pengaruh Islam juga meluas di daerah Mataraman, yaitu daerah Jawa Timur yang banyak dipengaruhi sistem nilai budaya kerajaan Mataram Yogyakarata, seperti daerah Ngawi, Tulungagung, Nganjuk, Madiun, Magetan, Jombang, Kediri, Trenggalek, dan Mojokerto. Segregasi sosial, arus perdagangan, arus komunikasi, transportasi yang berkembang sejak Jaman Hindia Belanda menyebabkan perkembangan seni rakyat mengikuti pola perkembangan sosialnya. Hal ini tampak dari kuatnya pengaruh Islam disemua kabupaten/kota Jawa Timur. Dengan demikian nilai Islam berpengaruh pula di daerah pedalaman dan Mataraman.

Daerah Mataraman sebenarnya mempunyai sistem budaya dan seni tersendiri. Seni wayang kulit, wayang orang, dan ketoprak merupakan bentuk kesenian Jawa Timur yang kental pengaruh Mataramannya. Seni yang awalnya sangat kental nilai aristokrasi, kehalusan, filsafat Jawa Mataram kemudian menyebar menjadi acuan budi pekerti, perilaku sosial-budaya, dan dasar kreativitas seni rakyat di Jawa Timur. Sebenarnya nilai seni Mataraman sejak awal juga dipengaruhi Islam. Hal ini berlangsung sejak perkembangan nilai Islam di Jawa Tengah hingga ke Jawa Timur. Pengaruh Islam tidak hanya disekitar keraton, tetapi juga meluas ke semua aktivitas masyarakat, termasuk seni dan budayanya. Akibatnya nilai budaya Mataraman sejak awal bersifat sinkretis: Jawa dan Islam. Nilai sinkretis seni Mataraman yang menyebar ke Jawa Timur bergumul dengan intesif dengan budaya pesisiran dan pedalaman.

Di sisi lain seni dan budaya Mataraman yang berkembang di Jawa Timur berkembang pesat ke semua wilayah kabupaten/kota, baik di daerah Mataraman maupun Pendalungan. Begitu pula nilai Islam kental yang disebarkan oleh komunitas Madura dan Jawa dari Pesisir Pantai Utara Pulau Jawa berinteraksi intensif dengan nilai Islam hasil dari pengaruh komunitas Pendalungan. Di Jawa Timur faktor perkembangan transportasi, komunikasi, segeregasi penduduk, urbanisasi, arus perdagangan, dan pola pemerintahan mempercepatan hubungan dan sinkretis antara budaya dan seni Mataraman dan Pendalungan.

Tidak heran kalau seni rakyat di daerah Mataraman masih kental juga pengaruh Islamnya. Misalnya seni Kentrung Bu Gimah dari Tulungagung sangat terasa nilai Mataraman dan wilayah pedalamannya, bahkan semua seni kentrung selalu ada bacaan tentang shalawat nabi Muhamad SAW dan sahadat. Kentrung Ontang Anting dari Lamongan sangat terasa nilai Islamnya. Bahkan Kentrung Ontang Anting dari Lamongan ini banyak bercerita tentang kisah Sunan Bonang. Begitu pula Macopat Layang Ambiyah dari kabupaten Blitar (daerah pedalaman dan Mataraman) masih terasa nilai Islamnya.

3. Kesenian Rakyat Menyebar

Pengaruh perkembangan sosial dan ekonomi terhadap seni di Jawa Timur besar sekali. Menurut Daniel Lerner perkembangan budaya bisa dipengaruhi oleh pola mobilitas sosial dan geografi masyarakatnya. Artinya semakin banyak masyarakat suatu daerah mengalami perubahan tingkat pendidikan, pola mata pekerjaan, dan tingginya tingkat urbanisasi atau perpindahan tempat masyarakat akan mempengaruhi pola kebudayaan dan seni masyarakatnya.

Sejak jaman Hindia Belanda pola perpindahan penduduk atau mobilitas masyarakat Jawa Timur relatif besar. Hal itu terjadi ketika Pemerintah Hindia Belanda membangun Pusat Pemerintahan di Jawa, di Jakarta, diteruskan membangun jalan dari Anyer sampai dengan Panarukan. Sejak saat itu pola transportasi dan komunikasi masyarakat Jawa Timur berkembang. Perdagangan, industrialisasi, transportasi, dan jasa dengan cepat berkembang di Jawa Timur. Lebih-lebih setelah pasca kemerdekaan, Tahun 1945. Pesatnya pembangunan transportasi, komunikasi, perdagangan, sektor jasa, dan industrialisasi menyebabkan jarak tempuh dari satu daerah ke daerah lain di Jawa Timur relatif mudah ditempu. Semakin sedikit daerah yang terisolir. Semua ini menyebabkan komunitas seniman rakyat bisa berinteraksi dengan komunitas seniman daerah lain. Lebih dari itu pola kesenian dari daerah akan cepat merambat ke daerah lain. Satu jenis kesenian rakyat akan cepat menyebar ke daerah lain.

Menurut pendataan Kantor Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud Propinsi Jawa Timur, dalam wilayah-wilayah kerja (wilker) pemerintahan selalu ada beberapa jenis kesenian sebagai berikut:

Wilker Surabaya: ludruk, wayang kulit, wayang orang, reog, kuda lumping, tayuban (tandhakan), banthengan, karawitan, samroh, qasidah, pencak silat.

Wilker Madura: ketoprak, samroh, gambus, mamaca (macapat), hadrah, pencak silat, sronen, thok thok, sandur, salawat, diba’an, topeng dalang.

Wilker Malang: ludruk, ketoprak, wayang kulit, kuda lumping, pencak silat, tayuban (tledhekan), karawitan, samroh, qasidah, jaranan pegon, jaranan senterewe, wayang topeng, jaranan kecak, reog ponorogo, campursari, kentrung, terbang bandung.

Wilker Bojonegoro: ketoprak, ludruk, wayang kulit, karawitan, kuda lumping, samroh, jidor, reog ponorogo, karawitan, wayang golek, sindiran (tayuban), sandur, wayang krucil, jidor.

Wilker Kediri: reog ponorogo, jaranan senterewe, kentrung, wayang orang, wayang kulit, karawitan, ludruk, tayuban, pencak silat, jaranan breng, jaranan jawa, genjring, reog kendang, odrod, andhe-andhe lumut, angguk, wayang golek.

Wilker Madiun: ketoprak, wayang orang, wayang kulit, karawitan, reog, jidor, karawitan, slawatan, pencak silat, qasidah, wayang beber, wayang jemblung, jaranan senterewe.

Wilker Besuki: pencak silat, qasidah, hadrah, re-re-re, jaranan bodhak, jaranan kecak, pojian, kuda lumping, topeng dalang, kentrung, rodad, kenong telok, janger, terbangan, macapat, patrol, terbang glipang, andhe-andhe lumut, damarwulan, ludruk, hadrah, kuntulan, pacul gowang, angklung caruk, kendang kempul, karawitan, terbang hadrah.

Hasil Tim Observasi (TO) mendapatkan data bahwa setiap seni rakyat di kota tertentu selalu ada di 4-5 kota lain di Jawa Timur. Misalnya wayang purwo dari Jombang juga berkembang di Mojokerto, Tuban, Sidoarjo, dan Surabaya. Ini artinya jenis seni rakyat di Jawa Timur menyebar disemua daerah kabupaten/kota. Meskipun pemain dan grupnya berbeda, tetapi jenis keseniannya sama. Tidak heran kalau kita bisa menemukan seni ludruk di Surabaya maka ada juga di Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Lamongan, Tuban, Nganjuk, dan kota lainnya.

Yang menarik dari berbagai jenis seni rakyat itu adalah telah terjadi diversifikasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan keahlian para senimannya. Wayang purwo di Jombang, misalnya, ada yang khusus untuk ruwatan, seperti wayang purwonya dalang ruwatan Matius Asmoro. Dalang Matius Asmoro ini banyak ditanggap masyarakat di Jombang pada saat masa ruwatan. Begitu pula masyarakat luar Jombang yang menganggap wayangnya Matius Asmoro hanya untuk ruwatan dan upacara sakral lainnya. Sedangkan wayang purwo yang ditanggap untuk acara hiburan ada sendiri dan umumnya dari grup lain. Karena itu kesenian rakyat sebenarnya sangat banyak ragamnya sesuai dengan heterogenitas masyarakat Jawa Timur itu sendiri.

Arah perkembangan kesenian rakyat bersama prospek sosio-kultural masyarakat Jawa Timur yang sedang mengalami perubahan sosio-ekonomi sedang mengalami problem besar, yaitu

Pertama, kesenian rakyat di Jawa Timur selalu berada dalam “pergelutan” menghadapi arus urbanisasi, kapitalisasi, modernisasi, dan pragmatisme birokrasi yang memperoleh tekanan rasionalisasi ekonomi nasional dan dunia. Di sisi lain, sebagaimana watak entitas sosio-kultural tidak gampang punah oleh arus modernisasi. Entitas itu tetap hidup, bergerak, tumbuh, dan kadangkala bersinkretis dengan modernisasi. Arus perubahan sosial dan modernisasi menyebabkan kesenian rakyat Jawa Timur berada dalam beberapa bentuk. Karena itu meskipun tampak “terseok-seok” dan “sempoyongan” kesenian rakyat susah dimatikan secara absolut. Entitas kesenian rakyat itu mempunyai varian yang luar biasa besar dan mengambil kesempatan akulturasi dan sinkretisasi dengan entitas lain dalam arus urbanisasi, perubahan sosial, dan segregasi sosial yang dinamis. Kita bisa lihat bentuk kentrung hampir ada disemua daerah kultural Jawa Timur. Misalnya kentrung di daerah Mataraman (terpengaruh nilai aristokrasi, abangan, dan adiluhung nilai petani pedalaman) warna musik, cerita, pola ungkap dan estetikanya berbeda dengan kentrung daerah pesisir yang Pendalungan (terpengaruh nilai Islam dan dipengaruhi etnis Madura). Sangat beda kentrung ontang anting dari Lamongan dengan kentrung Bu Gimah dari Tulungagung. Begitu juga Tari Ngremo dari Probolinggo sangat beda dengan dari Mojokerto atau Surabaya.

Rupanya penyebaran kesenian rakyat ke daerah lain secara cepat sesuai dengan arus segregasi, urbanisasi, arus transportasi yang telah berjalan ratusan tahun lalu. Tidak heran kalau hampir semua daerah kabupaten dan kota di Jawa Timur rata-rata mempunyai jenis kesenian rakyat yang sama dengan daerah lainnya, meskipun ada pola estetika dan artistik yang berbeda. Pola penyebaran yang merata, bersinkretis, dan fleksibel itu menyebabkan kesenian rakyat tidak gampang punah kena arus modernisasi dan kapitalisasi. Mulai dari dasar filosofi hingga teknis artistiknya masih tampak. Memang ada yang punah disatu daerah, tetapi bisa hidup di daerah lain dalam artistik dan estetika yang berbeda.

Kedua, problem lain dari eksistensi kesenian rakyat di Jawa Timur justru berkembang dari proses regenarasi komunitas seni rakyat yang mengarah ke terputusan. Artinya pada umunya generasi pertama seni rakyat itu umumnya petani, buruh tani, perkebunan, nelayan, dan profesi agraris lainnya. Pada generasi kedua tiga, empat, hingga kesekian umumnya dari golongan masyarakat yang heterogen dengan modivikasi nilai sangat heterogen. Dari sini kesenian rakyat itu mulai menyebar di berbagai kabupaten/kota lainnya dan kemudian dilengkapi dengan proses akulturasi secara gradual. Dalam proses regenerasi dan penyebaran itulah seni rakyat ada yang bergerak ke kutub konservatisme (mempertahanakan nilai kekunoannya dan bersifat generatif)) hingga ke kutub pragmatis yang dikemudian hari gampang dimodivikasi oleh birokrasi. Sentuhan birokrasi, modernisasi, dan pragmatisme ekonomi itu disatu sisi menyebabkan seni rakyat ada yang “modern” dari sisi estetika dan artistik, tetapi banyak yang terbenam dalam arus kepentingan birokrasi, politik, maupun menjadi bagian dari simbol budaya negara. Banyak ludruk baru yang dibuat untuk kepentingan legitimasi negara, tetapi di sisi lain seni rakyat ini masih kuat warga tradisional dan kerakyatannya. Itu tidak bisa diabaikan. Akibatnya banyak pengamat, pekerja, dan para seniman sering tergesa-gesa untuk memvonis seni rakyat telah mati, terancam, dan tergilas atau dengan istilah lainnya yang mengerikan. Padahal betapa pun untuk kepentingan slogan politik, slogan negara, dan sebagainya ketika “orang-orang politik dan atau birokrasi” itu pakai ludruk tidak pernah mengabaikan esensi ludruk tradisional. Kenyataan ini menunjukkan seni rakyat dan tradisional itu tidak gampang digusur oleh arus modernisasi dan kapitalisasi. Meskipun bisa merosot dan terdesak, tetapi susah mati absolut.

Ketiga, ada fenomena romantic agony dikebanyakan seniman tatkala memahami seni rakyat. Seolah-olah seni rakyat tidak pernah berubah dan bahkan tidak boleh berubah. Malahan ada yang berpendapat tidak boleh diurusi dan dibiarkan tradisional, merakyat, miskin, “naif”, dan tidak bisa dijual. Padahal sebagian besar para seniman seni rakyat (hasil wawancara) ingin berubah ke arah bentuk yang bisa diterima masyarakat secara universal. Sebagian besar seni rakyat tingkat artististik sederhana, simbol budaya, dan bahasa estetika dan artistiknya sederhana. Tidak secanggih seni modern dan eksperimental. Sementara fenomena sosio-ekonomi semakin pragmatis, modern, dan rasional. Dalam konteks sosio-ekonomi dan kultural macam ini seni rakyat tanpa modifikasi, tanpa transformasi yang cerdas maka sama dengan seni rakyat dijadika barang antik, tetapi tidak diberi hak mengolah masa depannya sendiri.

Keempat, kesenian rakyat secara gradual sebenarnya telah menjadi simbol emosi sosio-kultural masyarakat Jawa Timur. Seni rakyat dalam waktu puluhan tahun, ada yang ratusan tahun, menjadi bagian dari sistem simbolik budaya masyarakat Jawa Timur. Karena itu tidak heran kalau seni rakyat telah lama menjadi sebagian simbol mode produksi masyarakat Jawa Timur. Dasar pikiran ini membuat kita memahami kesenian rakyat secara komprehensif. Kesenian rakyat tidak pernah dilepaskan dari mode produksi masyarakat agraris tradisonal. Ini artinya jika pemerintah atau lembaga apapun yang akan membantu mengembangkan seni rakyat maka harus dilihat juga dalam konsep pengembangan sosio-ekonomi masyarakat secara luas. Bukan hanya seni untuk seni saja, tetapi seni sebagai bagian dari simbol mode produksi. Dengan demikian mengembangkan seni rakyat berarti juga harus menyentuh kesejahteraan petani, nelayan, tukang becak, tukang ojek, guru, santri desa, kuli bangunan, dan sebagainya. Karena merekalah sebagian besar formasi sosial seniman seni rakyat.

Sedikit catatan di atas menunjukkan dimensi kesenian rakyat di Jawa Timur juga bisa diletakkan dalam perspektif lebih luas. Karena itu siapa pun yang berusaha ingin membantu memberdayakan kesenian rakyat di Jawa Timur bisa memulai dari dimensi lebih luas dan komprehensif tersebut. (*)

4 Responses

  1. Pak Reyog mulai diklaim punya Malaysia lho, segera bertindak gimanagitu..? Kalau komentar saya, Patenisasi adalah semanagt rakus orang liberal. OK

  2. musik odrot dan kongkil seperti apa ya?kok sy baru dengar,sepertinya perlu di sosialisasikan!

  3. sy sendiri orang jatim (soeroboyo) baru tahu kalau sebanyak ini jenis kesenian di setiap daerah. Perlu di lestarikan Cak.

  4. dari uraian diatas, memberikan cerahan wacana yang patut diketahui, namun budaya yang berkembang dari sub etnis cina belum dielaborasi dengan perkembangan budaya arek
    thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: