Bubi Chen, Legenda Hidup Jazz Indonesia

Hanya Saya Yang Jadi Ahli Bedah Piano

Meski banyak musisi jazz bermunculan, nama Bubi Chen sebagai maestro jazz Indonesia masih belum bisa tergantikan. Bahkan, dia layak menjadi legenda hidup aliran musik asal Amerika itu di negeri ini.

Sibuk apa Om?

Ya, beginilah, sekarang saya sedang sibuk menata keping-keping CD. Saya sesuaikan dengan keping klasik koleksi saya. Tidak untuk apa-apa, hanya berniat merapikan saja. O ya, dalam bulan-bulan ini, saya akan memulai rekaman jazz fusion kerja sama dengan anak-anak muda keluaran Berkeley. Hahaha tantangan baru…

Kegiatan mengajar piano tetap kan?

Ya, saya mengajar piano, keyboard, dan teori musik. Semua privat. Dibanding di sini (Surabaya), saya lebih banyak mengajar di luar kota seperti Semarang dan Jakarta. Murid di Surabaya malah tidak begitu banyak. Orang-orang Jakarta banyak yang bilang, mereka bela-belain belajar sama saya, orang Surabaya malah adem ayem. Sudah ratusan murid saya yang jadi. Salah satunya Tamam Husen.

Berarti Om Bubi sibuk terus?

Bisa dibilang begitu. Setiap bulan, saya pasti keluar kota. Terutama akhir bulan. Ya mengajar atau konser di dalam atau luar negeri. Semua saya lakoni sendiri. Empat kali keliling dunia saya jalani sendirian. Capek juga sih. Apalagi, kondisi fisik saya mulai lemah. Tapi, ya saya berdoa saja supaya Yang Mahaesa tetap memberikan kesehatan dan ketabahan hati kepada saya.

Pantaslah Om Bubi sampai sekarang tetap menjadi ikon musik jazz Indonesia.

Saya tidak pernah merasa diri saya menjadi legenda. Saya hanya orang biasa yang menerima banyak cinta kasih dari Tuhan Yang Mahaesa.

Musik di mata Om Bubi?

Jiwa saya adalah jiwa yang agresif. Agresivitas itu masuk ke dalam musik saya. Karena itu, improvisasi musik saya sangat agresif. Kalau ada pemusik jazz yang bermain dengan lembut, saya bermain dengan menggebu-gebu. Buat saya, semua musik bagus. Asalkan, ditampilkan dengan baik dan disajikan dengan bagus. Saya senang dangdut, klenengan Jawa, musik Sunda. Malahan, saya pernah merekam grand piano dengan kecapi Sunda Mang Udin.

Menurut Anda, bagaimana musik jazz Indonesia sekarang?

Pada era Soekarno, jazz yang notabene berasal dari Amerika dianggap sebagai musik kolonialis. Karena itu, pada masa tersebut, jazz sangat dikekang, banyak hambatannya. Ketika menjadi pemain piano di Istana Negara, saya tidak bisa leluasa memainkan musik jazz. Yang saya mainkan musik klasik terus. Nah, pada era Pak Harto, jazz lebih bebas dan lebih bisa diterima.

Memang, jazz Indonesia saat ini sudah banyak mengalami kemajuan, meski belum bisa dikatakan hebat. Sekarang banyak yang mulai menyukai jazz. Sayangnya, yang senang itu tidak berarti ngerti jazz. Senang dan ngerti itu lain lho. Kalau hanya senang, mereka tidak akan tahu mana jazz yang bagus dan mana yang tidak. Seperti musisi jazz yang sekarang banyak bermunculan.

Beberapa di antara mereka memang ada yang betul-betul belajar jazz ke Amerika. Tapi, tidak sedikit yang tidak sekolah dan memainkan jazz dengan ngawur. Ada sangat banyak kesempatan belajar, tapi kok tidak digunakan.

Karya-karya Anda diapresiasi negara?

Pada akhir kepemimpinan Megawati Soekarnoputri, pada 2004, saya mendapatkan penghargaan Satya Lencana Kebudayaan. Penghargaan tersebut diberikan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gde Ardika di Surabaya. Beliau datang ke rumah saya karena ketika itu saya sedang sakit. Bagi saya, penghargaan tersebut sangat membanggakan sekaligus mengharukan. Betapa tidak, pada usia saya yang sudah tua ini, masih ada yang mengingat dan menghargai karya-karya saya.

Menurut Anda, peran media untuk musik jazz?

Mestinya sangat menolong. Sayangnya, yang terjadi, media malah menjadi penghambat karena banyak wartawan yang nggak ngerti jazz, tapi sok ngomong jazz. Nggak ngerti apa-apa tapi SP, sok pinter. Jadinya ngawur. Mengapa begitu? Bisa jadi karena wartawan itu nggak mau baca.

Selain itu, mungkin jazz belum terlalu familier. Wong kadang orang yang menyelenggarakan jazz juga tidak tahu tentang jazz. Dipikirnya jazz harus ada penyanyi. Lek ngono aku yo ngelus dodo (Om Bubi lantas tertawa, Red). Jazz itu ada atau nggak ada penyanyi, ya sama saja. Saya punya banyak pengalaman mengecewakan soal tersebut. Tapi, saya bisa apa lagi?

Om Bubi sejak kecil memang bercita-cita menjadi pemusik?

Saya pernah hampir menjadi dokter, tapi nggak jadi. Ceritanya begini, waktu SMA, kami adalah lima sekawan. Satu pribumi dan empat keturunan Tionghoa. Saking akrabnya, rasanya kami bersumpah setia ingin menjadi dokter semua. Malahan, waktu itu, kami sudah memikirkan masing-masing akan menjadi dokter apa. Saya ditebak bakal menjadi ginekolog karena paling senang sama cewek (Bubi Chen tertawa lagi). Padahal, sebenarnya cewek yang suka sama saya.

Tebakan itu kebanyakan tepat. Empat kawan saya benar-benar menjadi dokter. Tiga orang menetap di Amerika karena dilarang kembali oleh pemerintah akibat dihubung-hubungkan dengan PKI. Semua menjadi profesor. Begitu halnya satu teman saya yang pribumi. Dia juga profesor, ahli bedah tulang, sekarang sudah meninggal. Hanya saya yang menjadi ahli bedah piano. Hahaha…

Apakah Anda menurunkan ilmu musik kepada anak-anak?

Soal bakat, itu bukan urusan saya. Itu urusan Tuhan. Meski begitu, ada yang mengikuti jejak saya. Anak sulung dan yang kedua, Howie dan Benny, dua-duanya jago musik. Howie main piano, Benny nge-drum. Tapi, saya tidak pernah mengarahkan mereka. Mereka memilih sendiri. Malahan, anak ketiga, Yana, yang saya suruh main musik, ternyata malah nggak jadi. Sekarang, dia menjadi insinyur besar di RRT (Republik Rakyat Tiongkok). Di sana, dia membuat alat-alat seperti brain scanning atau MRI (magnetic resonance imagine).

Anda mengajari Howie dan Benny?

Tidak pernah karena tidak akan bisa. Ibaratnya begini, seandainya Anda seorang dokter dan mempunyai anak, apakah akan Anda obati sendiri ketika dia sakit? Tentu tidak akan berani. Pasti Anda menyerahkan pada rekan sesama dokter karena takut salah. Begitu pula dengan saya. Lagi pula, kalau saya ajari sendiri, pasti mereka akan sering membantah. Karena itu, daripada bertengkar, lebih baik mereka sekolah saja sendiri.

Apa harapan Om Bubi terhadap musisi jazz tanah air?

Saya harap mereka tetap tekun belajar musik. Tidak sekadar bermain, tapi juga belajar apa itu musik dan menyenangi segala jenis aspek serta gaya musik. Jangan menjadi anak-anak sok nge-jazz yang merendahkan jenis musik tertentu dengan mengatakan, “O, ini musik kuno, o ini musik kampungan”. Saya juga main dangdut. Dulu, ketika di kodam, saya memimpin band dan kami memainkan dangdut. Tapi, saya juga main musik klasik. Pokoknya, jangan mengotak-kotakkan musik. Apa pun musiknya, semua bagus, asalkan dimainkan dengan profesional.

Belakangan, kesehatan Om Bubi dikabarkan menurun. Namun, ternyata tetap terlihat bugar hingga menjelang 70 tahun. Apa rahasianya?

Gula darah saya memang agak berat. Saya mengidapnya sejak berusia 30 tahun. Dibilang mengganggu aktivitas, pasti mengganggu. Namun, saya terus melawan. Kalau tidak, saya tidak mungkin bertahan hingga usia 70 tahun. Supaya selalu bugar, saya berusaha tidak membebani pikiran. Banyak pikiran malah memperparah keadaan. Saya biasanya mengalihkan pikiran ke hobi. Hobi saya banyak. Mulai musik, membaca, merakit pesawat, sampai fotografi. (igna ardiani astuti/muhammad dinarsa kurniawan)

Tentang Bubi Chen

Nama : Suprawoto Bubi Chen

Lahir : Surabaya, 9 Februari 1938

Istri : Anne Chiang (alm)

Ayah : Tan King Hoo

Anak : 1. Howie Chen

2. Benny Chen

3. Yana Chen

4. Serena Chen

Prestasi : – Tampil di New York Fair bersama Indonesian All Stars (1967)

– Festival Jazz Berlin (1997)

– Salah satu dari sepuluh pianis jazz dunia terbaik (1997)

Pendidikan:

1. SD & SMP di Surabaya

2. SMA St. Louis Surabaya

3. Kursus piano dengan Di Lucia

4. Kursus piano dengan Yosef Bodmer (8 tahun)

5. Kursus Tertulis dari Wesco School of Music di New York, AS (1955-1957)

Karir:

1. Karyawan RRI Jakarta (1955)

2. Dosen di YMI & Yasmi Surabaya

3. Guru privat piano

6. Ketua Yayasan Musik Victor Indonesia di Surabaya

7. Anggota Circle Band

8. Pemimpin Indonesian All Stars Band

Diskografi :

1. Kau dan Aku (1976)

2. Bubi di Amerika (1984)

3. Bubi Chen And His Fabulous 5

4. Mengapa Kau Menangis

5. Mr. Jazz

6. Pop Jazz

7. Bubi Chen Plays Soft and Easy

8. Kedamaian (1989)

9. Bubi Chen and His Friends (1990)

10. Bubi Chen – Virtuoso (1995)

11. Jazz The Two Of Us (1996)

12. All I Am (1997)

Jawa Pos, Minggu, 30 Sept 2007

3 Responses

  1. pak saya butuh buku piano jazz. terutama runnig chord jazz piano.thank
    kalo bisa kirim infonya ke sman2pml@yahoo.co.id

  2. opah bubi..doain saya yah supaya saya bisa sukses kaya opah bubi..terima kasih banyak..

  3. Saya suka musik….Jazz tentunya,tapi seperti Bung Bubi katakan, bermainJazz harus mengerti Musik Jazz itu apa…?inilah yang ingin saya pelajari sebelum saya memainkan Jazz…,Sukses untuk Bung Bubi..GBU all.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: