Asri Nugroho: Lukisan yang Membawa Berkah …

ADA orang bilang, Asri Nugroho Nus Pakurimba (50), pelukis kelahiran Surabaya itu, orang kaya baru (OKB). Namun, Asri sendiri tidak merasa dirinya orang kaya. Jika kini dari hasil proses pencarian jati diri sebagai seniman (baca-pelukis-Red), Asri Nugroho berhasil membangun rumah yang “wah”, di Kompleks Perumahan Gunung Sari Indah Surabaya, itu bukanlah serba kebetulan. Asri telah melewati proses teramat panjang.

Sebelum memenangi sebuah penghargaan bergengsi “The Philip Morris Group of Companies” Indonesia Art Award, tahun 1994, Asri Nugroho meniti pergulatan hidup yang tak tahu bakal menjadi apa kelak. Proses pencarian jati diri itu kerap kali membuat dia berjibaku pada pilihan-pilihan hidup. “Selama tujuh belas tahun saya harus mencari hidup dari satu studio reklame ke studio reklame yang lain,” ujar Asri Nugroho kepada Kompas.

Sebagai anak seorang tentara berpangkat Letnan Dua (Letda), Asri Nugroho, jebolan Sekolah Menengah Atas Negeri Nganjuk tahun 1970, mengawali kariernya sebagai tukang gambar poster di rumah Bude-nya di Kampung Petemon, Gang Kuburan, Surabaya. “Bersama Cacuk dan teman-teman lain, saya harus berjalan kaki dari rumah Bude ke kantor film di Jalan Basuki Rachmat (sekarang TB Gramedia-Red) untuk mencari pekerjaan sebagai tukang poster,” ujarnya.

Setelah berjalan enam bulan sebagai tukang poster pada Rudi Reklame Poster, tahun 1971, dengan imbalan gaji Rp 100 per hari, selang dua pekan naik menjadi Rp 200 per hari. Lalu, Asri Nugroho mengadu keberuntungan di kota besar, Jakarta. “Selama setahun saya mencari keberuntungan sebagai kuli tukang poster di Jakarta dengan imbalan Rp 1.500-Rp 2.000 sehari,” ujarnya.

Surabaya sebagai tanah kelahiran membuat Asri harus kembali ke asalnya dan bekerja sebagai pembuat poster di Andre Studio, tahun 1973-1975. Tak betah bergelut dengan poster di Andre Studio, Asri Nugroho pun pindah kerja di sebuah usaha reklame Jaya Studio hingga tahun 1990. “Untuk mengikat diri saya, pihak Jaya Studio memberikan pinjaman sepeda motor Suzuki GT-100 dengan cicilan Rp 50.000 per bulan, dan baru lunas tahun 1990 lalu,” ungkap Asri.

Sebagai orang yang terus mencari, di sela-sela hidup sebagai pembuat poster itu, Asri sering memanfaatkan peluang untuk menawarkan lukisan hasil ciptaannya. Awal tahun 1989 datang berkah dari pencarian itu. Dalam perjalannya ke Bali bersama Setyoko, teman sesama pelukis, Asri Nugroho berhasil menjual sebuah lukisan seharga Rp 30.000. “Waktu itu saya tawarkan dengan harga Rp 100.000 dan ditawar oleh Barwo (pemilik Galeri Barwo-Red) seharga Rp 30.000, ya saya terima saja penawaran itu. Akan tetapi, oleh Barwo saya dikasih uang Rp 40.000,” ujarnya.

Sejak itulah, setiap dua bulan sekali Asri berkunjung ke Bali untuk menawarkan lukisannya, hingga membuahkan harga pantas. Dari berjualan lukisan karyanya itu, Asri Nugroho menemukan jati diri sebagai seniman (pelukis-Red). Sebuah lukisannya dihargai Rp 125.000. “Yang masih terkenang-kenang adalah waktu empat lukisan saya dihargai Rp 400.000, sampai-sampai cek pembayaran itu saya fotokopi dan simpan di dompet. Tetapi, bukti pembayaran cek yang saya fotokopi itu sekarang sudah hancur,” ujarnya.

***

ASRI Nugroho memulai pameran tunggal tahun 1987, di PPIA Surabaya, dan pameran tunggal di Edmond Galeri Jakarta, tahun 1992. Sejak menggelar pameran lukisan di Jakarta, Asri dengan karya-karya lukisannya yang beraliran realis, surealis, dan semi-abstrak, kian berkibar sebagai seniman lukis berkarakter. “Mulai tahun 1992 itulah lukisan saya banyak yang terjual, dan sekarang masih lumintu,” ujarnya.

Sejarah hidup anak manusia ini bagaikan mutiara yang tersembunyi di tengah laut nan luas. Karena, pada tahun 1994 dengan sebuah karya lukisan bertajuk Yesus-Penebus, Asri Nugroho mampu meraih penghargaan bergengsi “Philip Morris”. Dari karyanya yang religius itu, Asri Nugroho selain mendapat tropi idaman yang diimpikan oleh hampir semua seniman (pelukis) di negeri ini. “Itu berkah Tuhan, karena sebelumnya saya tak pernah mengimpikannya. Jika saya mampu membeli sepeda motor balap, rumah, dan mobil Mercy C-180 tahun 2000 lalu, bukan berarti saya bersombong-sombong,” ujarnya.

Salah satu dari karya lukisan Asri Nugroro bertitle Perjamuan Kudus dibeli pengusaha “beken” yang juga bos Grup Lippo, James T Riadi, seharga Rp 35 juta. Lukisan berjudul Yesus-Penebus yang meraih penghargaan “Philip Morris” dikoleksi oleh Soenarjo Sampurna. Sementara sebuah lukisan lain yang kental dengan suasana religius Yesus, dikoleksi oleh keluarga konglomerat Ellen Salim. “Banyak lukisan saya yang dikoleksi oleh orang-orang Bimantara, orang-orang Singapura, dan Hongkong,” ujar Asri.

Sebagai pelukis, Asri Nugroho berkesempatan mengunjungi Amsterdam (Belanda) dan beberapa negara Eropa dan Asia. Kehadirannya sebagai seorang seniman terasa makin punya nama di negeri ini. “Ibaratnya, bisa keliling Eropa dan Asia itu karena bonus dari kolektor yang mengajak jalan-jalan,” ujarnya.

Tahun 1999 lalu Asri Nugroho berpameran tunggal di Christy Gallery, Singapura, sedangkan dua tahun sebelumnya berpameran bersama empat pelukis Indonesia bertajuk Pameran Citra Realis di Japan Foundations Forum, Tokyo. Tahun 1995 dia berpameran dengan tajuk Asian Excellent, di Korea Selatan.

Sisi lain yang aneh-aneh dari Asri Nugroho adalah ketidaksukaannya untuk mengungkap identitas diri istri maupun anak-anaknya kepada publik, selain kegilaannya mengoleksi peralatan band bermerek amat langka.

Kini, di ruang khusus Asri menyimpan seperangkat peralatan band dari drum merek Ludwig buatan Amerika Serikat (AS), keyboard, gitar akustik grand Suzuki senar-12, gitar bass Aria Pro-2 bikinan AS, gitar merek Gibson, serta perangkat rekaman empat track. Entahlah itu pertanda apa bagi Asri. Tetapi, ia selalu menyebut mencoba selalu mencari… mencari… dan mencari lagi. (Abdul Lathif)

Kompas, Rabu, 14 November 2001

2 Responses

  1. Saya salah satu penggemar lukisan Mas Asri Nugroho. Saya mau minta informasi alamat lengkap Mas Asri. Mohon dikirim ke alamat email saya. Terimakasih.

  2. Saya awalnya ingin mendapat biodata dari ASRI Nugroho, sekarang sudah kami miliki berkat dikirimnya Biodata ASRI NUGROHO dari Sdr. MIkke Susanto. Ini diperlukan karena Karya Asri Nugroha akan segera kami terima sebagai koleksi pengiriman dari DR. Ir.Ciputra kepada Bapak Presiden SBY.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: