Peranan Media Massa dalam Kesenian

Media massa, baik elektronika maupun cetak, juga menjadi pusat penyebaran nilai seni modern di Jawa Timur. Lewat media massa itulah para seniman Jawa Timur saling berkomunikasi, saling berdiskusi, saling berapresiasi, berekspresi, dan mengetahui perkembangan setiap seniman, sanggar, kelompok, dan berbagai pemikiran yang muncul di Jawa Timur. Di Jawa Timur, khususnya di Surabaya, ditahun 1970-an muncul Mingguan Memorandum. Media cetak Mingguan Memorandum merupakan mingguan yang kritis terhadap negara, dimaksudkan sebagai media kontrol sosial bagi kalangan intelektual Surabaya dan Jawa Timur. Di dalam mingguan ini ada rubrik kesenian dan budaya yang aktif memberi ruang terhadap artikel seni, berita seni, cerita pendek, dan puisi seniman Jawa Timur dan nasional.

Di samping itu ada harian yang sangat besar dan kuat ditahun 1970-an di Jawa Timur yaitu harian Surabaya Post. Harian Surabaya Post yang berpusat di Surabaya sangat intensif memuat berita, artikel, gambar, kartun, dan ulasan kesenian. Di harian ini pula rubrik cerpen dan puisi disediakan secara rutin. Banyak sastrawan senior dan penulis cerpen senior seperti Akhudiat, Muhamad Ali Maricar, Suripan Sadi Hutomo, Husen Mulahele, Gerson Poik, Amang Rahman, Khrisna Mustadjab, dan sebagainya menulis di koran ini. Surabaya Post adalah harian dari Surabaya yang paling besar peredarannya di wilayah Jawa Timur. Karena itu banyak sastrawan, pelukis, pemusik, penari, dan pemain teater dari luar Surabaya menulis dan diberitakan aktivitas keseniannya di Surabaya Post.

Ditahun 1970-an muncul juga harian Bhirawa. Bhirawa sebenarnya merupakan koran milik koalisi antara birokrasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan TNI AD, utamanya unsur KODAM V Brawijaya, juga menjadi instrumen penting berkembangnya kesenian modern di Jawa Timur, ketika redaktur keseniannya dipegang Dr Suripan Sadi Hutama. Suripan Sadi Hutama adalah dosen sastra senior di IKIP Surabaya (sekarang UNESA). Dia terkenal sebagai kritikus sastra Indonesia bagian Timur yang kuat sekali. Dia terkenal sebagai HB Yasin Indonesia Timur. Sejak redaktur kesenian Bhirawa dipegang Suripan Sadi Hutama maka rubrik keseniannya berkembang pesat. Banyak penulis sastra Jawa Timur memulai karier penulisannya dari Bhirawa. Di samping itu karena wibawa Suripan Sadi Hutamalah yang menyebabkan penulis senior seperti Muhamad Ali, Amang Rahman, Hardjono W.S, Hazim Amir, dan sebagainya rajin menulis di Bhirawa. Dengan demikian Bhirawa menjadi salah satu media ekspresi kesenian para seniman muda dan senior di Jawa Timur.

Ditahun 1980-an juga muncul koran Suara Indonesia yang berpusat di Kota Malang. Suara Indonesia juga mempunyai rubrik kesenian yang bagus. Banyak penulis kota dan daerah Malang menulis kesenian di koran ini. Begitu juga para seniman Surabaya, Jombang, Gresik, Madiun, dan sebagainya pernah menulis di Suara Indonesia. Di Suara Indonesia berhimpun redaktur kesenian yang memang penulis cerpen, penyair, dan kritikus sastra seperti Toto Sonata, M Jupri, dan seorang redaktur senior yang berwawasan budaya luas yaitu Peter A Rohi. Media massa cetak di atas sangat besar penagruhnya terhadap perkembangan kesenian modern di Jawa Timur. Sebab media massa ini banyak memuat artikel seni, cerpen (cerita pendek), potret kesenian modern dan berita kesenian. Banyak seniman Surabaya dan Jawa Timur, pada umumnya, mengawali karir sebagai seniman dengan menulis dan atau diulas di 4 media cetak yang terbit di Surabaya dan Malang itu.

Ditahun 1970-an dan akhir Tahun 1960-an juga banyak terbit buletin, tabloid kesenian, jurnal, dan buku seni terbit di Surabaya. Buletin, tabloid, jurnal, dan buku kesenian sering diterbitkan oleh lembaga kesenian seperti Dewan Kesenian Surabaya, Bengkel Muda Surabaya, berbagai sanggar yang ada di Surabaya dan kota lain di luar Surabaya, dan juga pribadi penyair yang menerbitkan kumpulan sajaknya. Mulai dari seniman senior sampai dengan yunior banyak yang menerbitkan kumpulan puisi. Penyair Husein Mulahele menerbitkan kumpulan puisi, Krisna Mustajab, Muhamad Ali Maricar, Akhudiat, dan Muhamad Anis menerbitkan kumpulan puisi ditahun 1970-an.

Berbagai literatur, buku-buku kesenian, dari Jakarta dan Yogyakarta menyebar ke Jawa Timur melalui Surabaya. Media massa Jakarta, seperti Kompas, Sinar Harapan, dan sebagainya menyebar ke beberapa kota Jawa Timur melalui Surabaya. Begitu pula para seniman Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Padang, Sumatera Utara, Ambon, dan sebagainya selalu singgah di Surabaya. Dan sebaliknya para seniman Jawa Timur, baik dari Surabaya maupun di luar Surabaya, seringkali memulai berkomunikasi dan berinteraksi dengan para seniman Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan sebagainya dari Surabaya. Dan bahkan kemudian mereka berdiskusi, berdialog, dan bermain kesenian juga di Surabaya.

Ditahun 1960-1970an media elektronika yang berperan terhadap perkembangan seni modern di Jawa Timur adalah radio, utamanya RRI Surabaya (Radio Republik Indonesia). Sejak tahun 1960-an kesenian tradisional, seperti ludruk, ketoprak, wayang orang, wayang kulit, pembacaan macopatan, dan sebagainya banyak dimainkan di RRI Surabaya. Begitu juga kesenian modern seperti teater, musik pop, klasik, dan berbagai berita kesenian modern banyak diberitakan di RRI Surabaya.

Ditahun 1970-an, ketika radio swasta berkembang pesat di Jawa Timur, utamanya di Surabaya kesenian modern pun banyak diekspresikan di radio swasta tersebut. Radio Merdeka banyak mengembangkan pembacaan puisi, cerpen, dan teater. Tokoh yang muncul dari radio Merdeka adalah Yudo Herbeno, seorang pembaca puisi yang bagus dan penyair Jawa Timur. Yudo Herbeno kemudian menjadi penyiar TVRI Jawa Timur. Radio Merdeka sering menjadi sponsor lomba baca puisi. Kemudian Radio Rajawali juga banyak menghimpun teater dan seniman Surabaya untuk mengisi pembacaan puisi, teater, dan kesenian modern lainnya. Tokoh teater muda muncul dari aktivitas Radio Rajawali ini adalah Dr Mulyadi.

Berbagai model kesenian modern juga dimasukkan dalam program radio Susana. Mulai pembacaan puisi, sandiwara radio, acara bahasa Suroboyoan, dagelan, musik, sampai dengan teater dijadikan program penting radio ini. Tokoh penyiar populer muncul dari radio ini adalah Kaisar dan Ria Enes. Tatkala TVRI Jawa Timur berkembang ditahun 1970-an maka banyak tokoh teater bergabung dalam media elektronika ini. Bawong SN, Yudo Herbeno, Ria Enes, dan sebagainya bergabung dengan TVRI Jawa Timur dan kemudian mengembangkan program kesenian modern dan tradisional dengan baik. Banyak sekali lakon teater modern dimainkan di TVRI ini, antara lain Lingkaran Kapur Putih yang disutradarai Basuki Rachmad dari Bengkel Muda Surabaya pernah dimainkan di sini juga.(*)

One Response

  1. Sayangnya para pebisnis media banyak yang beranggapan berita-berita budaya dan kesenian tak laku dijual. Puritan…ndesani…..primordial etc. Duh…nasib kebudayaan kita benar-benar diujung tanduk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: